Kembali “Open Source” dan Upaya Melawan Budaya Upgrade Elektronik



Tahun 2022–2023 adalah tahun dimana aku bisa membeli banyak hal yang aku inginkan sebelumnya. Saat itu usiaku 25 tahun, aku punya pekerjaan, aku punya relasi, aku punya segala hal yang aku butuhkan untuk hidup dan membeli hal-hal yang aku inginkan terutama; gadget. Laptop, Smartphone, Smartwatch. Dan hal-hal lainnya yang mempermudah hidup.

Semua orang yang mengenalku ditahun-tahun itu tidak asing ketika aku beralih ke apple product terutama, iphone, macbook, aku selalu membawanya di setiap meeting, ataupun perjalanan.

Tapi semua berubah di tahun 2024. Bukan karena aku tidak mampu melakukan upgrade, tapi karena aku ternyata tidak butuh semuanya, dan aku merasa tidak memiliki kendali lagi atas apa yang aku sudah beli. Jadi aku merubahnya, dan berpikir ulang, kenapa perasaan itu bisa muncul.

Aku dibesarkan dari keluarga yang memiliki pemahaman bahwa, “selagi masih berfungsi, kenapa harus dijual”, itulah kenapa sepanjang hidupku aku tidak pernah merasakan barang-barang “premium”, walau keluargaku sebenarnya mampu membelinya.

Jadi sejak SMP aku sering mengutak-atik PC lamaku untuk bermain game berat atau bahkan mencoba Hackintosh walau speknya sebenarnya tidak mumpuni. Tweak demi tweak aku lakukan untuk mencoba hal-hal diluar batas kemampuan PC ku saat itu. Mengetahui sejauh mana mesin lama mampu beradaptasi dengan sistem-sistem baru dan terkini. Walau lebih sering gagal daripada berhasil.

Tapi eksperimen-eksperimen kecil di masa itu membuatku memahami bahwa ada opsi-opsi lain jika kamu tidak melakukan upgrade elektronik. Saat itu aku masih mengidamkan gadget-gadget terbaru yang nampak estetik, namun mahal. Kedua orang tuaku, tetap tidak mau membelikannya. Saat itu aku tidak memahami kenapa orang tuaku berpikir seperti itu, terkadang hal itu membuatku cukup kesal.


Kini aku mulai memahami maksudnya.




Eksperimen pribadi itu dimulai di tahun 2024, ketika aku merasa jenuh dengan barang-barang premium yang nampak aesthetic namun ternyata ringkih, dan memiliki satu sisi yang menurutku pribadi justru “mengerikan”.

Pengalaman premium itu aku rasakan melalui Apple, sebuah product yang jika kalian di industri kreatif semacam stempel keabsahana bahwa kalian dianggap legitimate untuk berelasi dan diajak bekerja kedepannya. Di Yogyakarta, tempatku tinggal kini, product Apple menghiasi banyak tempat, seolah semua orang harus menggunakannya agar nampak “sah” statusnya di lingkungan sosial mereka.

Lantas, aku pun akhirnya berpikir seperti itu. Aku merasa dengan menggunakan iphone, dan macbook, semua orang akan melihatku dengan persepsi bahwa aku adalah seorang profesional, dan “ayo kita kerjasama, membangun hal-hal luar biasa kedepannya”.

Sampai akhirnya aku tersadar, jutaan rupiahyang aku keluarkan tidak sepadan dengan kualitas material produk itu. Apple, dengan sengaja mendesain produknya dengan tampilan yang minimalis dan estetik, sayangnya tidak dibarengi dengan desain manufaktur yang efektif.


JEBAKAN DESAIN

Semua orang tahu bahwa Apple memasarkan produk mereka sebagai produk flagship di semua lini produk. Dan hal ini berimbas kepada bagaimana mereka membangun citra desain produk mereka: minimalis dan modern.

Macbook Air dan Pro 2019 yang aku beli waktu itu, memang tipis dan sangat estetis, tapi ternyata di desain untuk menggunakan fan seminim mungkin. Sehingga mereka beranggapan bahwa panas dari prosesor bisa dikeluarkan langsung melalui body alumunium yang mereka miliki (logika yang sama digunakan sampai hari ini, setelah mereka pakai M chip). Sehingga aku harus mengatur manual fan yang dimiliki oleh Macbook ku saat itu dengan aplikasi third party.

Lalu, terkait body material yang mereka punya, yang jadi masalah adalah body tersebut ternyata tidak lebih kuat dari laptop Thinkpad, yang dijual jauh lebih murah ketimbang Macbook.

Ceritanya suatu malam aku sedang menonton sebuah film di Macbook ku, dan entah kenapa jari ku menggoreskan kuku ibu jariku disatu sudut macbook, dan hasilnya: dent. Disinilah aku sadar bahwa, segini doang ketahanan body product apple?

Logikanya sederhana, semakin tipis manufaktur mesin laptop, semakin sempit sirkulasi udaranya. Dan kita semua tahu bahwa Apple bukanlah perusahaan yang doyan menggunakan ventilasi di produk unibody mereka. Artinya panas akan semakin gampang terjebak di dalam body Macbook, dan itu akan sangat mengganggu ketika kalian menggunakannya sambil mengetik.

Satu-satunya cara mengatasi hal ini adalah, gunakan macbook mu di ruangan ber ac. Sebuah saran yang cukup merepotkan setelah kita mengeluarkan jutaan rupiah untuk produk premium seperti ini.

Masalah kedua dari imbas desain milik Apple hari ini adalah, keyboard. Jika kalian menjelajah di forum pengguna Apple, terutama Macbook. Kita semua sepakat keyboard Macbook yang paling enak untuk dipakai sudah mati sejak 2015. Semuanya menjadi bencana ketika mereka beralih ke butterfly keyboard. Mereka berusaha membalikkan ke scissor keyboard tapi tetap tidak bisa menyamai kenikmatan desain keyboard lama mereka di tahun 2010–2015.

Dan yang paling absolut dari kesemuanya tentu saja dibagian, Layar Retina milik mereka. Banyak issue jika kita harus bahas, dari staingate, mudah deadpixel, whitepixel, dll (yang mana aku pernah kena issue ini berkali-kali). Yang akhirnya membuatku menyerah dengan produk ini.

Aku akhirnya melepas Macbook Air terakhirku di tahun 2025 awal. Dengan layar yang sudah bermasalah lagi, dan ada sedikit dent di bodynya.

Aku lantas memutuskan untuk melepaskan diri dari Apple.


JEBAKAN “PREMIUM”

Setahun sebelum aku menjual macbook air terakhirku, ada kegelisahan yang menggangguku, aku merasa dijebak.

Menggunakan Apple membuat kita merasa bahwa, segala sesuatu yang “premium” menjadi suatu hal jaminan, walau kita tidak memiliki kebebasan kustomisasi seperti yang kita inginkan. Namun, apalah itu kebebasan kalau kita bisa dengan mudah membackup data, mendengarkan music, lossless pula, menonton apple tv dengan kualitas konten terbaik.

Tapi di pertengahan 2024, aku baru menyadari dalam sebulan aku dirampok oleh sesuatu yang bernama “subscription”.

Aku menghabiskan lebih dari 600 ribu rupiah dalam sebulan hanya untuk berlangganan platform yang ternyata tidak hanya produk apple, disana ada spotify, youtube, google one, netflix, dll.

Apple ternyata sudah merubah mindsetku sejauh itu. Selama ini aku membeli hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar aku butuhkan.

Mindset “premium” melalui metode subscription melalui dua device utama, yaitu iphone dan macbook ini yang akhirnya memulai perjalananku untuk berhenti, dan menyaring apa yang sebenarnya aku butuhkan dan ingin aku miliki sepenuhnya.

Kepemilikan inilah ilusi yang dibangun oleh subscription, kita dipaksa untuk berlangganan sesuatu yang seolah milik kita namun sebenarnya tidak.

Ketika kita berhenti, kita terputus dengan apa yang sebelumnya kita rasa milik kita, playlist di apple music, daftar film yang ingin kita tonton di apple tv, bahkan file file milik kita yang sudah terbackup di icloud.

Disinilah aku mulai sadar, aku mengeluarkan jutaan untuk jutaan lainnnya selama bertahun-tahun kemudian.


Aku tidak pernah memiliki apa yang sudah aku beli.


LINUX — PERJALANAN KEMBALI KE AWAL

Di masa-masa aku belajar komputer dahulu, aku memang belajar melalui windows, terutama belajar mengetik, membuat email, dan tentu saja bermain game. Tapi secara otodidak aku mengeksplorasi Linux di tahun 2013–2016. Linux pertama yang aku coba adalah Backtrack.

Backtrack adalah sistem operasi penetration testing berbasis Linux Debian, yang sebenarnya tidak wajar digunakan oleh pemula sepertiku. Saat itu aku belajar bagaimana Linux bekerja, dari mulai instalasi, set up aplikasi yang aku butuhkan, membiasakan diri dengan terminal sebagai command prompt yang merupakan jembatan antara isi kepalaku dan mesin. Dan yang paling ekstrem adalah menguji jaringan. Aku ingat betul pernah mencoba mematikan seluruh jaringan internet sekolahku dengan OS ini.

Tapi karena hobi gaming ku saat itu aku meninggalkan Linux dan beralih ke Windows lagi sampai aku pindah ke Mac OS.

Kekecewaanku dengan Apple, membuatku akhirnya beralih ke Linux lagi. Bukan saja karena lebih murah, namun juga karena setelah sepuluh tahun berlalu, Linux kini berkembang sangat pesat secara komunitas. Dan secara filosofi lebih sesuai, ketimbang beralih ke Windows, yaitu kebebasan kustomisasi. Pokoknya do wathever you like.

Bukan rahasia umum kalau hampir semua distro Linux bisa diinstall disemua device dengan berbagai macam spesifikasi. Berbeda dengan Windows dan Mac OS yang menuntut banyak kepada user terkait spesifikasi hardware yang dibutuhkan.

Setelah berbagai macam pencarian terkait dukungan komunitas yang besar, dan hardware yang cocok. Aku akhirnya memutuskan untuk mengawinkan Arch Linux (murni) dengan Thinkpad T470. Alasannya sederhana, dua-duanya dapat dikustomisasi, basis komunitas yang luas, dan tentu saja murah.

Aku hanya mengeluarkan 2.5 jt hanya untuk membeli satu thinkpad t470 varian 8/128gb. Dengan keyboard yang terkenal nyaman, dan baterai, ram, ssd yang bisa dilepas pasang jika ingin upgrade. Lalu, dan yang pasti, karena durabilitas materialnya yang terkenal tahan banting (yang ini valid).

Terkait pengalaman menggunakannya mungkin bisa aku tulis di tulisan terpisah.

Namun, kembali menggunakan Linux membuatku merasa memiliki segalanya, tidak ada paksaan upgrade hardware terbaru, tidak ada paksaan untuk update sistem sesegera mungkin seperti Mac OS atau Windows, (kalian bisa update sistem kapanpun kalian mau). Dan jika ada trouble komunitas Arch Linux yang besar bisa membantumu kapan saja melalui forum resmi di website mereka, atau group-group di facebook, telegram, atau discord.

Menggunakan Arch Linux, akhirnya memaksaku untuk merubah smartphoneku dari iphone ke android lagi (yang tentu lebih murah) dan fyi, semua smartphone android dapat di custom rom dengan OS open source lainnya yang dikelola oleh komunitas, seperti graphene OS, lineage OS, dll ketika memang sudah tidak dapat menjalankan banyak aplikasi terbaru.

Dan tentu saja karena bisa di custom rom ketika masuk masa “kadaluwarsa”, aku tidak membeli smartphone keluaran terbaru, aku hanya perlu berpikir smartphone apa yang dahulu ingin aku miliki tapi tidak kesampaian. Pilihannya ada di Sony atau Samsung, akhirnya memilih Samsung S10+, samsung terakhir yang memiliki durabilitas layar terbaik sebelum akhirnya terkenal doyan menyertakan fitur lightsaber di edisi selanjutnya, S20-sekarang.

Lantas menggunakan android membuatku hanya perlu berlangganan google one, alih alih juga berlangganan icloud diwaktu bersamaan. Lebih murah, dan semuanya terintegrasi menjadi satu ekosistem saja.


TUA BUKAN BERARTI BURUK

“Kalau masih berfungsi kenapa harus ganti”, akhirnya dapat aku pahami hari ini.

Kembali menggunakan linux, membuat mindsetku berubah. Kamu tidak perlu mahal untuk produktif, dan tidak perlu terkekang untuk merasa memiliki sesuatu. Yang kali ini kamu benar-benar bisa miliki.

Sejak awal tahun ini, aku akhirnya terbiasa untuk kembali menggunakan hal-hal yang valuable dan fungsional. Melakukan maintenance mandiri, dan tentu saja hal-hal ini membuatku sadar bahwa barang-barang tua ini masih bisa menemaniku untuk bertahun-tahun kedepan, asalkan aku bisa mengoptimalisasikannya.

Thinkpad T470 ku berusia 9 tahun, dan S10+ ku kini berusia 7 tahun, mereka bisa menemaniku untuk bertahun-tahun kedepan dengan banyak cara yang sudah aku pertimbangkan.

Ketergantungan terhadap kebaruan memang memudahkan kita, tapi juga mengorbankan banyak hal.

Tentu saja ini semua baru awalan, aku baru mengatasi ketergantungan budaya upgrade smartphone dan laptop. Masih ada ketergantungan terhadap storage yang belum selesai dan device audio yang sedang aku eksperimenkan secara mandiri dengan mengalihkan habit menggunakan tws dengan menggunakan in ear monitor (IEM).

Namun mungkin cerita itu untuk catatan selanjutnya.

Komentar

Postingan Populer