Hanya sebuah batu yang membuat kita terhentak atas kebiadaban hidup, dan warga Oran sebagai komunal yang menyajikan pemandangan kontemplatik terhadap yang dinamakan kekejaman matahari diatas kepala. Sungguh jauh mereka, orang-orang ini menghentak kemanusiaan melalui hukuman-hukuman yang dijatuhkan para Dewata melalui semiologi pertikaian dua manusia dalam sebuah ring tinju sebagai pelipur lara atas wajah masyarakat yang terasingkan di sebuah malam yang hangat dan tersembunyi dari sejarah peradaban. Kini apa yang disajikan tentu mengikuti perkembangan dari usia itu sendiri, semakin tua komunal itu berada diantara bukit pasir, semakin menghilangnya wujud kepercayaan kepada yang berkuasa, apapun bentuknya, dan setiap harinya, kau tak perlu menunggu konklusi dari suatu dongeng tentang perkelahian abadi antara surga dan neraka. Namun bilamana ada memori yang terbentuk dengan sendirinya, adalah landskap yang gersang melalui kehampaan Camus menarasikan setiap kecurigaannya pada individu yang ada. Kepada eksistensi dan kebenaran yang tak tersembunyikan. Manusia beriringan bersama yang tak bernyawa, dalam kehilangannya. Lantas, apa yang dilakukan manusia dalam pembukaan yang penuh keluh kesah tadi, sungguhlah mengikuti nalar yang manusiawi, bahwa tak ada yang perlu diperjuangkan dalam realitas yang abnormal. Dan kepercayaan terhadap mitologi atau bahkan bila ada realisme magis seperti di Chile atau Argentina, dongeng hanyalah dongeng. Sabda suci nampaknya telah lama pergi, menjauh dari perjanjian teologi manapun. Dengan begitu, roda akan tetap berputar di Oran, dan tanpa disadari ia hanya sekedar, dan telah lama ia bertempat tinggal di satu tempat yang sama. Seperti gerobak usang yang terbengkalai dan terbalik, orang-orang memandang pada jendela sebuah bar dan melihat gersang di sekitar pemukimannya yang tak bermaksud merefleksikan pada siapa-siapa, kini justru abadi menghuni disana tak peduli siang atau malam. Setiap manusia terefleksikan oleh hal ini, dan saya pun seringkali mengalami keabsurdan yang sama. Namun kemudian lelucon perihal dunia yang nihil seperti yang tersajikan oleh Camus terhadap manusia yang terlanjur terjerembab dalam kenaifannya, sangatlah menghibur. Kita menerimanya sebagai hal yang wajar, dan barangkali memaklumi atas semua keniscayaan tadi dalam wujud yang transparan menelanjangi diri kita. Tapi kemudian penghabisan terhadap yang ada, merupakan pukulan telak bagi siapapun yang merasakan, bahwa keterlibatan para Dewa dan pembangkangan Prometheus seperti dalam essay "Prometheus di Dunia Bawah Tanah", merupakan gambaran bahwa ini masalah serius, dan terwakilkan eksistensi itu bahkan oleh sebuah batu yang tak bersalah dan tak ingin dipersalahkan atas segala kepercayaannya, dan hidup batiniah atas terkutuknya padang Aljazair yang merona dan berasap. Kumpulan essay ini menyajikan keluh kesah manusia dalam menghadapi kehidupan yang ia tahu akan berakhir pada kematian, sepantas apapun kedudukannya dan bagaimana ia memulai sebuah pagi dengan harapan, walau kemudian semuanya ia pikir akan menjadi titik semu dan esok ia akan memikirkan hal yang sama. Bahkan dalam essay "Pohon Buah Badam", kebengisan Napoleon pun tak pelak menjadikannya sebagai manusia angkuh yang tak bertanya tentang bagaimana bentuk kebenaran dan kebajikan tempatnya bersemayam selama ini. Walau pertanyaannya kepada Fontanes, tentang bagaimana melankolik dirinya ketika menghadapi perbandingan antara penguasaan menggunakan pedang dan pikiran, telah terjawab, relevansi hal ini berlaku untuk berabad-abad kemudian, bahwa para penakluk bertransformasi pada wujud yang berbeda dan falsafah yang jelas tak sama. Akan ada masa dimana pendudukan oleh pedang akan terkalahkan dengan orang-orang suci yang merasa sadar bahwa kesalahan masa lalu perlu diakhiri, dan untungnya mereka memiliki batas antara kebenaran diantara peperangan koloni. Menimbulkan retrospektif yang kemudian membangun sebuah kontradiksi selama berabad-abad peradaban manusia. Dan sebagai awal mula dari kontradiksi tadi, setiap insan selayaknya menolak apapun yang telah habis koyak oleh jejak historisnya. Dan seperti yang digaungkan Camus terhadap ketiadaan, bahwa manusia akan merefleksikan dirinya, dan kemudian menyesalinya sebagai perwujudan dari pembenahan yang terwujud dalam prekognisi yang diperkirakan akan menimbulkan kontradiksi baru dalam retrospektif yang lain. Selain itu keindahan Aljazair menawarkan intrik yang rumit antara hubungan Prancis khususnya dengan masyarakat Aljazair dan Algeria tepatnya, seperti dalam essay "Panduan Singkat Untuk Kota Tanpa Masa Lalu", ia menuliskan lebih gamblang daripada yang dituturkan dalam karyanya sebelumnya, "The Stranger" yang begitu penuh kebencian metafor dari wujud gersang alam Aljazair yang kejam menghanyutkan setiap insan kepada sebuah tragedi tak terhindarkan (yakni dalam konteks pembunuhan) penuh idealistik-humanis yang termaafkan, dan bila boleh mengutip kalimat alegoris dari seorang Baudrillard; "segala bentuk pembebasan hasrat". Sebab kemudian adanya perkawinan campuran selama berabad-abad antara orang Eropa dan masyarakat lokal adalah takdir yang harus dibawa dan tak mampu dilawan oleh orang-orang Oran dan berbagai golongan masyarakat Aljazair yang berkedudukan dibawah koloni Prancis. Dan sebagai seorang individu yang memiliki hubungan erat dengan Aljazair, seorang Camus telah berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, bertemu dengan perwujudan Amor Fati yang dimaksud Nietzsche dalam setiap epik tragedi kehidupan, dan selayaknya kita pun, bahwa keterikatan lahiriah dan batiniah terhadap masa lalu, dan segala hal yang dicintai, dalam kenaifan manusia yang termaafkan oleh hukum sebab akibat dan gersangnya kesenangan melainkan ambiguitas dari rutinitas hidup, tidakkah justru secara natural membuat kita dengan kesadaran mau melihat hal-hal yang memang secara batin kita gemari sebagai bentuk absah keabadian walau secara makro, yang juga tak sekalipun bersifat melepaskan, bahkan justru mengikat untuk selamanya; kepada memori dan hasrat yang tersembunyi.
Semua tulisan itu sampah.
Orang-orang yang menuliskan segala hal yang sedang mereka pikirkan itu semuanya sampah. Semua penulis itu sampah.
Terutama para penulis zaman sekarang.
- Antonin Artaud
Baru halaman pertama, dan sudah disajikan dengan kalimat provokatif semacam itu, membuat saya semakin penasaran dengan buku ini. Ada rasa seolah saya sedang membaca Nietzsche yang di kompilasi bersama Sartre di saat bersamaan, sebab percaya atau tidak, buku ini memiliki kekuatan yang mahaluas dalam membahas eksistensi seorang manusia melalui gadis bernama Bianca yang baru saya ketahui namanya — si aku ini — sejak sekitar halaman 80-an. Mencakup tentang eksistensialisme. Kita akan bertemu dengan Aku (Bianca) yang suatu hari mendapati kabar bahwa kedua orang tuanya tewas ditempat pada suatu kecelakaan lalu lintas di wilayah bagian selatan. Kini otomatis ia pun menjadi yatim piatu bersama seorang saudara lelakinya. Hidup sendiri dengan tanpa ditinggali atau disiapkan uang yang cukup oleh kedua orang tuanya di usia yang masih sangat muda, bahkan harus membuat mereka akhirnya bekerja demi memenuhi kebetuhan sehari-hari, membuat sekolah mereka terbengkalai, hanya demi mencari uang dan membayar uang sewa apartemen kecil mereka di kota Roma. Ia bekerja di sebuah salon, sementara adiknya mendapat pekerjaan di suatu tempat gym. Semenjak itu Bianca merasakan bahwa hidupnya menjadi linier, tanpa ada rintangan (kecuali beban keuangan), ia banyak menghabiskan waktu menonton televisi seharian bersama adiknya, hingga suatu waktu adiknya membawa sebuah kaset dvd film porno, dan menontonnya bersama Bianca, mereka menontonnya dan membuat Bianca semakin banyak menghabiskan waktu di depan televisi. Disaat itulah ia merasakan ada yang aneh, mulai dari ia yang selalu memandang malam dengan langit yang begitu benderang, hingga dirinya yang diselimuti sinar yang begitu terang, ia merasa dirinya sudah gila, dan lama-lama akan menjadi lebih gila, rasanya. Hingga suatu waktu, adiknya membawa dua orang kawan yang ia sebut sebagai “orang Bolognia / Bolognan”, dan “seorang Libya / Libyan”, entah siapa nama mereka Bolano pun nampaknya enggan menuliskan nama mereka berdua selain berdasarkan sebutan rasisme diantara mereka. Membawa kedua orang asing yang bahkan bukan kawan adiknya itu, untuk menginap, dan lama-lama mereka beralih menjadi menetap di rumah mereka. Membuat keadaan menjadi berbeda, Bianca yang sebelumnya sibuk dengan mimpinya yang indah dan hidupnya yang linier, mulai berani menembus batas-batas kenormalan, sejak — sepertinya dimulai pada satu malam dimana seorang masuk ke dalam kamarnya (salah satu dari kedua teman adiknya) dan berhubungan intim bersamanya. Rasanya, dua sosok pria tak dikenal ini, adalah gambaran dari dinamika sosial masyarakat, dimana kita tahu, bahwa tidak semua yang terlihat baik itu benar-benar baik, terkadang kau melihat seorang teroris dari kalangan mereka-mereka yang alim, atau seorang pembunuh dari kalangan introvert tulen. Awalnya, ia merasa tak masalah dengan keberadaan mereka, toh, mereka tidak mencuri apapun, mereka tidak merusak apapun, mereka juga ikut membersihkan rumah, bahkan sering menyediakan makan untuk Bianca dan saudaranya. Tapi, sejak itu Bianca seperti masuk ke dalam sebuah lorong yang begitu gelap, mimpi-mimpinya yang indah sebelumnya berubah menjadi buah tidur yang mencekam, dari sosok kedua orang tuanya yang berubah menjadi ulat hingga, ia sadari begitu saja bahwa dirinya sudah lama tidak lagi bisa tersenyum. Tak lama, keadaan menjadi lebih buruk, adiknya dipecat dari pekerjaannya dan menjadi pengangguran, dan memilih memarjinalkan dirinya sendiri bersama dua kawannya itu, membuat ekonomi mereka tak lagi seperti semula, otomatis hanya Bianca yang bekerja di salon, harus menafkahi tiga orang pria di rumahnya. Tentu itu tidak cukup. Sampai suatu malam, Bolognian dan Libyan, kedua teman adiknya itu memiliki sebuah rencana yang kelak akan — dan mereka begitu yakin — bisa mengubah hidup mereka dengan seketika, bisa mengubah hidup mereka menjadi naik derajat lebih tinggi dari yang sekarang: Merampok seorang pria tua kaya raya yang buta, mantan aktor dan seorang binaraga, bernama — atau yang sering orang sebut dengan nama, Maciste. Ditulis dengan keinginan menggebu-gebu dalam batinnya dalam memprotes realita manusia, dan alter ego melalui sosok seorang gadis bernama Bianca, rasa-rasanya, kompleksitas cerita ini bukanlah murni dari alur, sebab seperti judulnya A Little Lumpen Novelita, hanyalah secuil gambaran kehidupan membingungkan yang dialami anak manusia, selebihnya adalah karung demi karung hasrat yang didasari oleh keinginan meraih sebuah cita-cita. Sebuah harapan, dan kegemilangan bahkan bila itu baru saja mengawang dalam angan semata, seperti kebanyakan manusia sekarang. Mereka tidak akan seperti ini bila kedua orang tuanya masih hidup, sejak keduanya meninggal, keanehan di dalam kepala Bianca menjadi-jadi. Ditambah belakangan adiknya sering mengurung diri dan menangis dengan sesenggukan seorang diri, begitulah setidaknya yang ia ceritakan pada Maciste selagi mereka bercinta pada malam yang sunyi, setelah sepakat sebelumnya pada kedua teman adiknya, bahwa, Bianca yang akan menyusup dan membodohi pria tua itu dengan menjadi semacam “pelacur” untuknya. Gambaran Maciste yang buta seolah gambaran dari seorang manusia yang sempurna dalam hal duniawi namun satu sisi dalam dirinya tidak menerima lagi hal-hal semacam itu, semuanya hanya basa-basi baginya, uang, rumah mahabesar, dan halaman yang sunyi, serta fasilitas yang ada di dalamnya, tak lagi berarti selain usia yang kian menua, kesendirian, dan kekurangan dalam dirinya — yang tak ia jelaskan dengan pasti mengapa ia bisa buta. Sebuah harapan yang sejenak membangkitkan gairah itu, tak pelak ia kunjung temukan, sebuah brankas atau tempat penyimpanan yang dicari-cari olehnya tak juga ditemukan, ia tak mendapati uang itu, sementara para lelaki yang menyuruhnya hanya berdiam di apartemen, menonton televisi, dan bersenda gurau seperti biasanya. Menyadari bahwa harapan itu tak akan bisa ia temukan, bahwa harapan itu mustahil untuk ditemukan seiring berjalannya waktu, seiring ia tak lagi tahu sejak kapan ia mulai beralih menjadi seorang kriminal seperti ini, ada satu sisi dalam dirinya yang memberontak, ada satu hal yang tak bisa ia jelaskan atas perasaannya terhadap Maciste, rasa cinta kah? Atau hanya belas kasihan belaka? Pada seorang pria tua penyendiri, yang entah dimana ia simpan segembog uang yang mereka cari-cari secara sembunyi. Yang ia tahu hanyalah, di malam terakhir mereka bersama, mereka bercinta di bawah patung St. Pietrino of the Seychelles. Merasakan bahwa ini adalah akhir hayat dari hidupnya, pada akhirnya. Dua pria kawan dari adiknya ini, yang seolah orang-orang baik — pada awalnya — sebelum orang lain sadar, bahwa orang yang terlihat baik adalah mereka yang memanfaatkan dirinya, memanfaatkan dan menculik sosok Bianca untuk masuk ke dalam keabsurdan hidup yang lebih absurd dari mimpinya dengan Maciste pada satu malam. Hingga akhirnya, Bianca berkata bahwa mereka harus pergi, jauh dari tempat mereka, dan jangan pernah kembali. Sebuah keberanian yang tak pernah ia ungkapkan sebelumnya, berpikir bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Mengembalikan dirinya dari seorang kriminal dan sorang pelacur, kepada jati dirinya sebagai seorang anak yatim piatu yang akan bekerja keras dalam menjalani hidup, bekerja di salon, dan bermimpi memiliki sebuah salon sendiri, sementara adiknya bekerja turut membantu memulihkan keuangan keluarga, terlepas dari kesalahan atau kecerobohan di masa lalu, ia bisa melupakannya tapi apakah dengan melupakan itu semua benar-benar pudar? Secuil rasa kekhawatiran muncul, walaupun rasanya tak lagi ada yang perlu di khawatirkan, akan gejolak takut bahwa kesalahan di masa lalu itu, sebenarnya tidak pernah benar-benar usai. Atau apakah, alih-alih merasa telah kembali, ia sebenarnya hanya melarikan diri?
“Ketika aku masih seusia dirimu aku merasa bersyukur masih memiliki waktu untuk membaca. Dan sekarang kau disini, mengkhawatirkan tentang waktu dan makan malam. Kau sudah gila!”
Bagaimana Perpustakaan yang tenang dan sunyi, berubah menjadi suatu keliaran yang mahagila. Ini salah satu karya terliar Murakami. Itulah yang terpikirkan dibenak saya ketika selesai membacanya, seolah sedang membaca karya-karya cerita pendeknya, hanya saja ini berupa ilustration novella. Begitupun dengan tema yang diambil; Perpustakaan. Seorang anak yang mampir ke sebuah perpustakaan untuk mengembalikan sebuah buku yang ia pinjam tempo hari, dengan tepat waktu tentu saja. Dengan keisengan anak-anak pada umumnya, ia berkata bahwa ia juga sedang mencari buku lainnya. Dia pun diarahkan dan pergi ke ruang basement perpustakaan dan masuk ke sebuah ruangan tepat di suatu koridor yang begitu mencekam, disanalah ia melihat seorang pria tua duduk di mejanya, dan disanalah kisah yang aneh itu dimulai. Ketika pria tua itu memberikan buku The Diary of an Ottoman Tax Collector (dan dua lagi yang sejenis), si anak tidak diperkenankan untuk meminjam dan membawanya pulang, tapi ia harus membacanya di perpustakaan tersebut, di sebuah ruang baca, jauh di bawah basement perpustakaan itu, dengan koridor yang mereka lalui serupa labirin, dan ruang baca serupa penjara, kaki anak itu bahkan harus diikat dengan rantai dan bola besi seolah tawanan perang di dalam gulag. Lebih aneh lagi, seorang penjaga ruang baca tersebut; lelaki berkostum kulit domba. Sebenarnya saya sempat dibuat nyengir-nyengir sendiri sama bayangan lelaki berkostum domba yang si anak temui kala pria tua tersebut mengantar si anak lelaki pergi ke ruang baca (yang sebenarnya adalah penjara, sih). Dan pria tua itu tak memperbolehkan si anak pergi dari ruang baca, bahkan untuk pulang sekalipun — walaupun hari kala itu telah senja, dan si anak khawatir ibunya akan memarahinya kala kembali ke rumah kelak — dan si pria tua berkata, untuk membaca seluruh isi buku itu, sampai semuanya bisa di hafal di luar kepala, hingga sampai waktu itu tiba, ia akan terus mengawasinya, bergiliran dengan si lelaki berkulit domba yang akan memberinya makan setiap senja. Baiklah, sampai disini, kita bisa melihat jelas, suatu keanehan akan terjadi, mengingat judulnya The Strange Library. Murakami memang novelis absurd yang masih begitu aktif sampai sekarang, dan biasanya, keabsurdan dia, entah mengapa selalu begitu kental kala ia menulis cerita pendek daripada novel, namun kini walaupun masuk dalam kategori novella, mungkin bisa setara dengan karya-karya kisah pendeknya yang begitu sureal. Sulit melihat berlian yang memantulkan sinar mentari dari dalam lautan yang tengah tercemar minyak bumi, namun bukan tidak mungkin sama sekali tak nampak. Seperti itulah The Strange Library. Tak sulit namun juga tak mudah mengidentifikasi apa yang Murakami ingin utarakan dalam karyanya ini, namun beberapa cukup samar: kedigdayaan kaum tua, lemahnya idealisme kaum muda, dan budaya membaca yang kian terkuras zaman. Juga mungkin, budaya basa-basi yang melemahkan. Ini tercium kala adegan di ruang pria tua di basement perpustakaan tersebut, dimana si pemuda merasa tak nyaman dengan suasana di sekitarnya dan ingin segera pergi, serta berkata bahwa ia hanya iseng belaka, dan buku yang ingin ia pinjam pun tak terlalu penting baginya, berharap pria tua itu memaklumi, dan membiarkannya pergi, namun nyatanya justru si pria tua “menceramahi” si pemuda, membuat si pemuda sungkan tuk kembali meninggalkan ruangan, dan kembali masuk ke perpustakaan. Sikap yang ditunjukan pria tua itu jelas suatu pertentangan, dan mungkin sebuah protes terhadap masyarakat yang mempertanyakan mengapa orang-orang tua selalu pemarah, selalu cerewet selalu ingin menceramahi anak-anak muda, sementara yang muda dengan keukeuhnya percaya apa yang mereka inginkan dan sedang jalani saat ini, adalah yang terbaik baginya. Bagaimana pria tua ini bersikap, dan bagaimana respon si aku dalam hal ini, yaitu anak lelaki tersebut, jelas menggambarkan situasi antar generasi, terlebih ketika di dalam penjara, si anak lelaki mengeluh ingin segera pulang, ingin segera bertemu ibunya dan memberi makan hewan peliharaannya. Berdalih bahwa ibunya akan khawatir terhadap dia yang tak kunjung pulang. Ditambah apa yang disampaikan si lelaki berkulit domba, bahwa pria tua itu akan melahap isi kepalanya. Alhasil ketika ia membaca, walaupun sebenarnya apa yang ia baca bisa ia nikmati begitu saja, dan langsung menempel dalam otaknya, sesuai seperti yang diinginkan si pria tua, ia ingin tetap pulang, ia ingin bertemu ibunya, dan kembali ketika senja tiba. Sebab yang ia tahu, bahkan berhari-hari setelahnya, pria tua itu akan segera melahap otaknya seusai ia menuntaskan tugas tersebut, melahapnya tanpa tersisa sedikitpun untuk si anak lelaki menjalani hidupnya kemudian. Tapi, apakah benar segalanya akan berakhir penuh dengan kanibalisme dan bengisnya keteragisan belaka? Anak muda terlalu tahu menahu akan segalanya, sebab bahkan ia tak tahu apa yang kelak akan terjadi di hari-hari berikutnya. Akankah buruk atau baik yang tengah ia alami saat ini, anak muda. Mereka terlalu muda untuk tahu segalanya. Yang mana memang sepertinya, sudah alamiah dan lumrah di dalam masyarakat modern seperti sekarang.
Terkadang, kalau sedang merancang suatu kisah, entah untuk novel atau cerita pendek, atau bahkan untuk film, kita, termasuk saya, terlalu disibukkan dengan pola penceritaan, hingga lupa sejenak tentang esensial dari kisah itu sendiri. Katakanlah, merancang kisah seperti merancang jalur jalan raya di sebuah kota metropolitan, yang bertele-tele dan bisa memakan waktu yang lama. Alih-alih ingin membuat terkejut para pembaca, dengan opsi-opsi yang njlimet, justru kita sendiri yang bisa dibuat bingung dan bosan dengan cara seperti itu. Penulis seperti Haruki Murakami misalnya menganalogikan merancang suatu kisah selayaknya menata halaman — untuk cerita pendek — sedangkan untuk sekelas novel — kita sejak awal sedang menanam hutan dengan rerumputan dan pepohonan tua yang menjulang-julang. Tak ayal, membuat kisah selayaknya memelihara makhluk hidup yang kelak bisa mati dan terlupakan. Ada tanggung jawab, dan tentu bukan hal main-main. Menanam selayaknya dengan keindahan yang luar biasa, lebih menarik dari apapun. Bonsai, di sisi lain, adalah satu mahakarya Alejandro Zambra di awal debutnya sebagai novelis di tahun 2006-an. Bahkan belakangan ia sering disebut-sebut sebagai titisan Roberto Bolaño. Tapi, sebenarnya karyanya yang pertama ini lebih cocok disebut novella karena halamannya yang tak lebih dari 90 halaman (terbitan Melville House). Terinspirasi dari tanaman Bonsai, yang mana sering orang bilang adalah miniatur alam — sebenarnya miniatur sebuah pohon di suatu pot bunga, makannya dinamakan pohon Bonsai, dan jika pohon itu dilepas, dan ditanam di lahan lain yang cukup luas dan alami, kita bisa menyebutnya dengan “bonsai” saja. Begitulah sekiranya penjelasan salah satu fragmen di novella Bonsai, kala Julio sedang mempelajari tentang Bonsai itu sendiri. Berkisah tentang sepasang anak muda yang jatuh cinta, sebut saja dan kita hanya menyebutnya dengan nama Emilia dan Julio — karena mereka sebenarnya tak bernama, penulis lebih senang menyebutnya sebagai “dia” untuk masing-masing keduanya dan meminta si gadis di sebut Emilia dan si lelaki di sebut Julio — yang jatuh cinta kala menjelang ujian Spanish Syntax II. Novella ini cukup unik dengan ide yang singkat dan bisa di tulis dalam satu paragraf saja, di awali dengan sebuah kalimat: In the end she dies and he remains alone. Kita telah diberi bocoran bagaimana akhir kisah ini, seperti kita membaca Chronicle of a Death Foretold nya Marquez. Tapi yang memberi perhatian lebih adalah bagaimana Bonsai bisa bertransformasi pada sebuah kisah cinta “gagal” yang berakhir pada kematian Emilia di akhir kisah. Terlebih saya — dan mungkin para pembaca lainnya juga — menduga bahwa Julio dalam kisah ini adalah alter ego dari Zambra itu sendiri, selain Zambra sebagai narator dalam kisah tersebut, tentu saja. Terlebih ketika Zambra merasa ada karakter yang membuat kisahnya melenceng ia akan berbicara pada pembaca: bahwa karakter itu adalah pelengkap, bukan karakter utama, kita akan kembali fokus pada Emilia / Julio. Ini adalah satu narasi yang cukup lucu menurut saya.
Di potong menjadi lima bab yang cukup pendek, kedua sejoli itu bertemu dengan semacam ketidak sengajaan, ketika mereka sedang belajar di sebuah rumah seorang kawan, dan secara kebetulan mereka menjadi kian dekat dan menjumpai satu kesamaan diantar keduanya. Namun, begitu, kebohongan terjadi bahkan ketika pertama kali mereka sedang berusaha saling mendekat satu sama lain: “The first lie Julio told Emilia was that he had read Marcel Proust.” Tapi terlepas dari kebohongan yang mereka ciptakan sendiri, kesamaan diantara keduanya adalah buku — bacaan. Saya bahkan sempat nyengir sendiri, ketika sampai pada paragraf dimana mereka terbiasa membaca sebuah kisah bersama-sama, dalam satu buku dengan nada-nada yang khas dan berubah-ubah, taksir saya seperti seseorang yang sedang membaca naskah dialog pertunjukan teater. Hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah kisah berjudul, “Tantalia”, karya Macedonio Fernández. Kisah tentang sepasang kekasih yang membeli sebuah tanaman mungil sebagai simbol persatuan cinta diantara keduanya, namun mereka pun menyadari bahwa kala tanaman itu mati, cinta yang menyatukan keduanya pun juga ikut mati. Menurut saya bagian ini salah satu yang terpenting sebab, Alejandro Zambra menanamkan analogi yang tersebar diantara bab per bab. Terlebih kala Julio dan Emilia berpisah dan mulai menjalani hidup mereka masing-masing, dimana Julio bertemu dengan seorang novelis, Gazmuri yang meminta bantuan kepada Julio, untuk menulis ulang kisah yang ia tulis tangan dalam beberapa buku catatannya. Dia membuat sebuah cerita yang mirip dengan kisah Bonsai ini tapi sedikit berbeda dengan Tantalia karya Macedonio Fernández yang sebelumnya Julio baca bersama Emilia. Tentang sepasang kekasih yang membeli sebuah tanaman untuk menyatukan kisah cinta mereka; Pohon Bonsai.
Sebuah tanaman, yang menjadi miniatur alam konon katanya, diubah menjadi analogi dari kisah cinta, yang tragis pada akhirnya. Pohon Bonsai dalam hal ini seperti yang saya katakan di awal sebelumnya, akan disebut Bonsai saja ketika mereka berada di alam liar dan terbuka (tidak dalam sebuah pot bunga) karena, pot dalam hal ini adalah menyatukan elemen dari alam itu sendiri. Perasaan, kejujuran, kesetiaan, dan terakhir ajal/kematian. Menjadi satu kesatuan bersama Pohon Bonsai di dalam pot bunga, menyatukan semuanya menjadi analogi alam dalam miniatur alam terkecil sekalipun, ketika Bonsai itu di lepas dia tidak akan mati (dalam hal ini, secara implisit tentu saja), tapi justru akan tetap ada dan hidup dengan cara yang berbeda.
Alhasil, Zambra sendiri tak dapat mengakhiri kisah Julio sama sekali.
Norwegian Wood, Haruki Murakami: Awali Tahun Baru Dengan Kewarasan, Setidaknya.
Haruki Murakami Januari 01, 2018Tak lama setelahnya saya buka beberapa bab awal di buku itu untuk pertama kalinya, membacanya penuh khidmat versi terjemahan Inggris itu. Kisah diawali dengan pembukaan yang sedikit semiotik dan absurd saya rasa ketimbang bab-bab setelahnya (salah satu bagian yang tak termasuk di versi filmnya), bahkan bila bisa dikatakan, bab itu bisa dipenggal menjadi cerita pendek seperti bab awal, The Wind-Up Bird Chronicle. Tentang narasi seorang Toru beberapa tahun setelahnya, di umur 30-an, yang terjebak diantara memori masa lalu dan masa kini, menuliskan kisahnya sendiri membahas tentang bagaimana sosok Kizuki, dan Naoko yang ia ingat selama ini (sedikit kabur nampaknya) di masa-masa kelam hidupnya, saat ia masih begitu muda. Satu bagian yang juga pendek, dipenuhi kalimat-kalimat romantis yang misterius, saya rasa. Kelebihan Murakami muncul disini, membangun kesan romantis diantara kemisteriusan kata-kata. Mengingatkanku pada cerita-cerita pendek yang pernah dibuatnya. Tidak tanggung bahkan ia membocorkan ending Norwegian Wood, perihal Naoko di awal-awal kisah. Mengingatkanku pada foreashadow gaya Marquez, namun yang ini lebih romantis dan dipoles oleh sentuhan akhir yang dramatis. Tapi, mungkin ini hanya bagi saya dan para pembaca yang mengawalinya dari menonton filmnya terlebih dahulu, namun percayalah Murakami terbilang nekat, atau mungkin tidak pernah terpikirkan oleh dia sebelumnya bahwa part itu yang akan diambil menjadi ending novelnya, terlepas memang kebiasaan dia, menulis tanpa merencanakan alur dan bagaimana kisahnya bisa berakhir. Saya rasa satu kebetulan yang dimanfaatkan. Seperti kebanyakan penulis surealis lainnya, di satu sisi saya akan menjabarkan apa yang sebenarnya diulik dalam novel ini, ini perihal sudut pandang Toru yang terjebak diantara dua lingkup dunia (atau pikiran), yang membuat saya juga tertarik pada karya-karya Murakami pada awalnya. Yaitu, karakter utama khususnya, akan dibuat sendirian dalam keterhimpitan suasana. Bukan situasi yang mengharuskannya, namun psikologis yang dimainkan, Murakami memang terkenal handal jika memainkan psikologis para tokoh-tokoh di dalam kisahnya, singkatnya bisa dilihat dalam kumcer dia Men Without Women Stories, atau the Elephant Vanishes, yang mayoritas dari kisah-kisah yang ia buat itu, memang lebih didominasi oleh psychological drama, bercampur semiotika — condong pada surealistik. Hingga, ketika Toru dan Naoko berada di situasi yang sama, hubungan mereka pun tak bisa jauh dari kelabilan pikiran mereka, terlepas mereka masih diusia dua puluh tahun-an. Kematian seorang sahabat begitu memukul kehidupan mereka, sehingga tak ada yang lebih terpukul daripada seorang wanita yang ditinggal kekasihnya, tanpa kata perpisahan dan sebab musabab.
Sesederhana itu kisah dalam Norwegian Wood, hanya berkutat di antara perasaan Naoko, dan Toru Watanabe, diulas begitu dalam dan panjang dari sisi psikologis keduanya tanpa embel-embel surealisme sama sekali, antara Toru dan Naoko setelah kematian Kizuki, bagaimana mereka berhubungan asmara kemudian, bagaimana Midori akhirnya masuk dalam hidup Toru ketika ia menginjak masa perkuliahan (dengan gaya komikal ala-ala Jepang, tentu saja) begitu tiba-tiba. Membuatnya terjebak diantara pikirannya sendiri, bersama dua gadis yang mengikatnya pada satu rasa yang juga sama. Percakapan tentang seseorang yang jatuh ke dalam lubang yang begitu dalam, kau tak bisa bangkit, dan berdiri diantara kaki-kakimu, ketika laba-laba, kelabang, melahap tubuhmu yang telah lebur menjadi mayit dibawah bumi, tak ada yang bisa kau lakukan bahkan jika itu kau harap kelak akan tiba pertolongan. Mengawali bagaimana rumitnya hubungan antara Toru dan Naoko sejak awal mula kisah, setelah kematian Kizuki. Cukup mengerikan bagi sebuah percakapan asmara antar dua anak manusia, namun begitulah Murakami, keabsurd-an awal dan akhir sebuah kisah yang begitu normal.
Beberapa hari belakangan, saya berjanji hanya akan membaca lebih banyak karya-karya Borges, Kafka, dan bila memungkinkan, Etgar Keret. Penulis-penulis yang saya kagumi, dan bila selagi saya belum memiliki salah satu buku novel dari karya mereka, setidaknya saya harus membaca beberapa cerita pendek mereka. Itulah yang terjadi, akhirnya saya lebih dahulu membaca beberapa cerita pendek karya mereka. Tentu dengan rasa was-was, terlebih tak banyak cerpen mereka yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan entah mengapa, saya lebih senang membacanya ketika masih menjadi mentahan bahasa Inggris, was-was sebab takut-takut saya salah mengartikan pemaknaan kisah-kisah itu. Tak terhitung berapa banyak orang yang mencoba memahami pola pikir penulis semacam Kafka, dan Borges. Namun tetap, pembaca adalah hakim bagi segala hal yang masuk ke dalam pikirannya, tentu sama sekali tak akan pernah merubah pemaknaan dalam sebuah karya.
Beberapa karya membuat saya sedikit pusing tentu saja. Bahkan beberapa dibuat termenung apa yang sebenarnya mereka maksud dengan cerita pendek, saya pernah membaca Albert Camus, atau bahkan Pramoedya. Tapi lebih jauh lagi, kisah-kisah racikan Borges dan Kafka (contohnya), adalah kisah yang bermuatan lebih luas. Terkadang akan terlampau panjang di jabarkan secara harfiah, kadang hanya beberapa paragraf — Kafka bahkan dalam the Trees hanya membuat dua hingga tiga baris kata — dan tentu saja, itu membuat saya terpacu untuk membaca karya-karya mereka. Bukan karena aspek kisah atau semacamnya, tapi lebih kepada apa yang ingin disampaikan si penulis kepada para pembaca, bahkan dengan hanya tiga baris seperti di the Trees. Tentu penulis tak akan main-main, dalam sudut yang sempit beberapa kali saya mengikuti teknik itu, hanya untuk sekedar coba-coba, tidaklah gampang, harus ada substansi dari apa yang terkandung di dalamnya dengan muatan yang akan terbentuk di teather of mind para pembaca tentu saja. Sebab salah-salah, yang ada hanya pembaca akan menganggap tulisan super pendek yang kita buat hanyalah sekedar guyon tak penting belaka. Tapi itulah yang terjadi dan akhirnya saya mengerti, beberapa rumor mengatakan Kafka dan Borges adalah penulis-penulis yang gemar filsafat, dan sepertinya itu mempengaruhi banyak dari karya-karya mereka, bahkan bila tak salah the Metamorfosis juga salah satu korban penjajahan filsafat pula.
Hingga satu hari akhirnya saya mencoba memutuskan untuk menerjemahkan beberapa cerpen mereka-mereka yang saya sebut di bait pertama barusan. Dan ya, cukup sulit, sebab harus lebih hati-hati karena cerpen-cerpen mereka layaknya esai dalam bungkus yang alih-alih short stories. Tapi itulah tantangannya mungkin, sebab — khususnya Kafka — tak banyak yang bersedia menerjemahkan karya tulisnya ke dalam bahasa Indonesia, kecuali hanya beberapa orang saja, dan itu telah dibukukan. Hingga beberapa cerpen harus saya kumpulkan dari berbagai sumber, dan kebanyakan adalah bahasa Inggris yang baku dan penuh metafora tentunya. Butuh waktu lama pula untuk mengartikan beberapa kata yang janggal dan tak wajar, bagi saya. Sebab bagi saya semakin ringkas sebuah kisah, akan semakin ringkas pula kata-kata yang diperlukan dalam proses menulisnya, dan mungkin itulah yang dirasakan penulis-penulis ini. Meringkas dengan segala metafora yang ada — sebab dengan itu lah mereka tak hanya menyusn kata-kata yang berkaitan jalan dan kisah, namun juga harus membuat apa yang ingin disampaikan harus bisa tersampaikan.
Namun tidak akan dapat disangkal, karya yang diterjemahkan mungkin akan mempunyai cara menyampaikan kisahnya masing-masing, tergantung pada gaya kosakata si penerjemah itu sendiri. Dan itulah yang diminimalisir oleh “kehati-hatian”, walaupun akhirnya, apa yang akan disampaikan telah tersampaikan dalam bentuk bagaimana, pembaca yang memutuskan. Bagi saya, menerjemahkan karya-karya mereka adalah sebuah pelajaran menulis yang teristimewa, sebab dengan itu kita dapat memahami pola pikir para penulis disaat mereka menuliskan apa yang sedang kita terjemahkan sekarang ini. Benar kata Eka Kurniawan di dalam sebuah jurnalnya tempo lalu bahwa dengan menerjemahkan karya sastra kau sekaligus bisa belajar menulis langsung pada penulisnya, sebab kau juga akan bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Borges, saat menulis Borges and I, atau menulis sebagai Kafka, yang menulis The Street Window, atau seorang Marquez, kala menulis esai pertemuannya dengan Hemingway.




