SEBUAH KONFERENSI DAN PERKARA "DESENTRALISASI" ARSIP FILM LAINNYA YANG BELUM SELESAI
Mulanya tulisan ini aku rencanakan untuk menuliskan sebuah perjalanan, namun ternyata berakhir dengan banyak kekecewaan. Bukan dengan kolega-kolega saya dari negara lain. Namun justru kepada negara sendiri.
Keanggotaanku di Association for Curator and Programmer of Asian Cinema (ACPAC) tahun ini mengharuskanku untuk ikut berpartisipasi di dalam konferensi yang berlangsung di Thai Film Archive. Selain karena memang ada satu proposal yang sedang aku ajukan untuk aku presentasikan, yaitu proyek Restorasi Asrama Dara. Begitupun dengan SEAPAVAA Conference 2026 yang diselenggarakan beberapa minggu sebelumnya di Malaysia.
Agenda yang aku rencanakan sebagai medium kolaborasi bagi kawan-kawan di Indonesia, agar lebih mampu berjejaring dengan jaringan programmer di Asia. Tidak sesuai dengan rencana.
Dua hari lalu pembicaraanku dengan seorang kawan, Akbar Rafsanjani membuatku mendengar untuk pertama kalinya bahwa aku bukan satu-satunya membatalkan kepergian ke Thailand, melainkan ada dua kolega ku dari Indonesia yang juga membatalkan perjalanannya untuk mempresentasikan kerja-kerja kuratorial yang selama ini mereka lakukan di Indonesia.
Mendengar hal itu tentu saja, sedih, marah, namun membuatku masih percaya, kerja-kerja desentralisasi arsip harus segera digalakan.
Beberapa minggu setelah presentasiku di ACPAC secara online (sayangnya!), aku harus ke Jakarta untuk sebuah project. Disela-sela itu aku mengajak bertemu dengan kawanku, Julita Pratiwi (Juju), juga karena tempo hari kudengar akan ada semacam focus group discussion yang ia akan selenggarakan olehnya atas nama Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan melibatkan banyak kawan-kawan komunitas.
Pertemuanku dengan Juju tentu semacam intro baginya bagaimana keadaan komunitas dan arsip film terutamanya diluar Jakarta. Bercerita dengannya membuatku harus banyak mengingat apa yang telah aku dan tim lalui selama 3 tahun terakhir, di Jogja, Jakarta, Malang, Bali, hingga Medan. Perjalanan menemukan bentuk pengarsipan film yang sesuai dengan karakteristik mayoritas komunitas, mengharuskan kita melihat bagaimana mereka bekerja, berkomunikasi, dan tentu saja berpikir.
Melepaskan diri dari ke-Jakarta-an adalah hal penting, sebab kerja-kerja pengarsipan sejatinya sudah desentral, ia tidak perlu dinarasikan, hanya perlu disulam menjadi kesatuan. Begitulah sekiraku menyarankan kepada Juju. Selebihnya tidak ada yang berbeda diantara kita berdua, kita berkomunikasi dengan kesepahaman yang sama, dan tentu saja harus akui dia memiliki ketelitian yang lebih dibandingkanku.
Kehadirannya, dan yang penting kesudiannya memasukkan kerja-kerja arsip di BPI tentu menjadi sesuatu yang membuatku salut kepadanya. Kadang aku berpikir, jika aku yang ditawari, belum tentu aku mau. Selagi karena aku kadung burnout dengan ekosistem film, bagiku BPI adalah tanggung jawab yang begitu besar, dengan kapasitasku, aku lebih senang melemparnya ke kawanku yang lain. Juju menjadi orang yang tepat dengan latar belakangnya beberapa tahun ini.
Pembicaraan remeh temeh kami lalui Sabtu itu sepanjang Cikini, membicarakan awal-awal kuliah film sebagai sesama anak film ikj, kami mampir ke pameran arsip Asrul Sani, dan menamatkan hari dengan menuntaskan rasa lapar di foodcourt TIM (aku lupa nama gedungnya, tapi dibawah Kineforum).
Pameran Asrul Sani beserta pemutarannya membuka mata kami bagaimana sebuah ekosistem telah bekerja untuk menghidupkan ulang dan menarasikan ulang sejarah sinema melalui efemera arsip film. Mengalami pameran Asrul Sani, adalah perjalanan kami menjelajah cara berpikir para pegiat film dan pengkaji film dalam mendaur ulang pengetahuan melalui arsip yang tercecer milik Asrul dan keluarga.
Tentu ada banyak yang harus dikritisi, terutamanya perkara materi film yang sebenarnya secara kualitas tidak layak tonton, dan harus ada standar khusus yang tentu perlu disepakati bersama.
Sisanya, kami merefleksikan ini semua dimeja makan di sebuah warung dengan harapan, bahwa FGD kelak bisa menghasilkan sebuah gambaran besar apa yang dibutuhkan komunitas film yang bersinggungan dengan kerja-kerja arsip terhadap BPI, dan bagaimana ia bisa terjalin juga antar sesama komunitas yang mengalami pengarsipan dalam sehari-hari.
Sesuatu yang sekiranya menjadi alternatif, ketimbang berharap kepada bantuan entitas negara seperti yg terjadi di tahun ini.



Komentar
Posting Komentar