SETELAH SATU ABAD DAN SEBUAH DOKUMENTASI YANG TERLEWATKAN
![]() |
Di bulan Juni, kami menyepakati untuk kembali menelusuri ingatan-ingatan tentang sebuah kota di selatan pulau Jawa, bernama Kebumen. Sebuah wilayah yang cukup tua dan merekam banyak sekali perubahan zaman yang terjadi, dan budaya yang terus bergerak secara organik, dimana komoditasi Genteng menjadi yang paling terkenal diantara semua.
Industri tersebut bergerak melintasi banyak generasi, kini jika asumsi itu benar, industri genteng di Kebumen sudah berusia lebih dari 100 tahun. Yang ironisnya tanpa menyisakan banyak bukti-bukti sejarah selain informasi-informasi lisan.
Dibulan itu kami berangkat dari Yogyakarta yang sedang penuh gegap gempita perayaan kebudayaan. Perjalanan menjauh dari hiruk pikuk tersebut tentu menjadi celah waktu, terutama untuk saya, mencoba berkontemplasi tentang bagaimana kebudayaan dimaknai ulang sebagai sesuatu yang bergerak beriringan dengan daya hidup masyarakat secara nyata dan fungsional.
Selain itu riset dan rencana pendokumentasian audio-visual ini juga membuat saya bertanya banyak hal, terkait sejarah, model kapitalisasi, dekolonisasi pengetahuan, dan bagaimana bisa industri sepenting ini tidak memiliki dokumentasi dalam bentuk audio-visual yang di masanya termonopoli oleh orang-orang Eropa.
DOKUMENTASI YANG TERLEWAT
Agenda ini sebenarnya sudah kami susun sejak beberapa bulan sebelumnya, tentang penelusuran ulang sejarah Kebumen, dan gantengnya. Sebuah fenomena kebudayaan yang telah berlangsung berpuluh tahun. Hanya saja tentu, diantara kawan-kawan yang berlatar belakang kerja-kerja seni rupa, saya yang berlatar belakang film dan arsip film, melihatnya lebih pada perkara bagaimana agenda ini layaknya upaya pengarsipan atau pendokumentasian ulang kebudayaan yang nyatanya minim tertulis, terekam, dan dikonservasikan artefak-artefaknya melalui medium audio-visual.
Semalam sebelum keberangkatan riset di pertengahan bulan Juni, saya mencoba mengingat melalui sebuah pertanyaan: “Menuju abad 20, bagaimana kaum kolonial saat itu, mengabadikan kedigdayaan diri mereka di abad yang baru?” Hal ini sebenarnya untuk mengurai dari mana seharusnya kita mulai membaca sejarah keterkaitan wilayah Kebumen dan Genteng.
Jawabannya adalah gambar bergerak atau moving image, disiplin seni paling mutakhir di masa itu, berkelindan dengan penemuan kamera photo yang menggusur para pelukis untuk digantikan oleh profesi baru benama para photographer untuk mengabadikan momen, sosok penting, atau bahkan pesan-pesan personal maupun pesan para penguasa di bangsa mereka atau bangsa yang sedang mereka duduki. Hanya beberapa puluh tahun setelahnya, photo-photo yang diam ini kemudian bertransformasi atau lebih tepatnya ditransformasi oleh Lumiere bersaudara menjadi gambar bergerak, yang akhirnya bermuara pada penemuan bentuk lanjutannya seperti dokumentasi video, film, hingga eksperimen-eksperimen visual lainnya. Gambar bergerak, lantas menemukan dirinya menjadi temuan paling mutakhir untuk menyampaikan pesan dan menggerakan massa, tidak terkecuali bagi para penguasa, yang mencoba merekam dirinya sendiri.
Uniknya, riset awal terkait pendokumentasian audio visual gentengisasi di Kebumen pada masa Hindia Belanda, nyatanya sulit ditemukan, di Internet maupun di portal-portal arsip Hindia Belanda yang bertebaran secara digital.
Padahal jika kita menarik waktu kebelakang, pendudukan Belanda di Hindia Belanda pasca runtuhnya perusahaan dagang multinasional VOC, cukup banyak mentransformasi wilayah-wilayah khususnya dipulau Jawa untuk memasuki era Industrialisasi yang sudah dimulai sejak masa Revolusi Industri di Eropa pada abad 18. Hindia Belanda sendiri baru memasuki masa Industrialisasi di abad 19 hingga awal abad 20, dengan berdirinya banyak pabrik gula sebagai penyokong komoditas utama di masa tersebut. Serta bergesernya komoditas ekspor dari rempah menjadi hasil tambang, yang mendorong harus adanya infrastruktur pendukung yang lebih krusial dan lebih modern, yaitu kereta api. Yang mana hal ini membuat banyak wilayah kemudian saling terhubung oleh rel kereta api, tidak terkecuali Kebumen.
Periode keterhubungan wilayah ini menandai masuknya, media koran sebagai media informasi publik yang tersebar secara massif ditengah-tengah masyarakat, sebagai media arus utama persebaran informasi dari penguasa Hindia Belanda yang berpusat di Batavia, kepada rakyat di wilayah-wilayah lainnya.
Di masa yang sama, sebenarnya seperti tabiat negara Koloni Eropa lainnya, gambar bergerak juga digunakan untuk meliput dan mendokumentasikan banyak hal yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada periode awal abad 20. Jejaknya banyak kita temui melalui platform seperti The Jaap Kunst Collection, Open Beelden, dan sejenisnya. Kebanyakan dari dokumentasi tersebut menyorot kemewahan, ekspedisi militer, budaya tradisonal (seperti tarian), hingga suasana perkotaan besar. Yang dari semuanya, sayangnya tidak saya temukan dokumentasi terkait Kebumen, Sokka, dan sejenisnya.
Material seluloid dan kamera film yang aksesnya cukup mahal pada masa itu membuat segalanya terpusat dan dimonopoli oleh pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Di masa yang sama orang-orang Belanda dan Tionghoa mencoba melakukan privatisasi alat dengan membangun perusahaan film sendiri dengan akhirnya memproduksi film dokumenter maupun fiksi dari cerita-cerita rakyat, tentu dengan modal yang tidak sedikit.
Walau begitu, tidak seperti medium koran yang mampu meliput banyak hal, beratnya modal operasional pendokumentasian audio-visual membuat tidak seluruh fenomena masyarakat di tanah Jawa mampu terdokumentasikan, yang membuat kami berasumsi bahwa inilah sebab kenapa dokumentasi audio-visual terkait sejarah industri genteng di Kebumen pada periode Hindia Belanda, tidak ada jejaknya sama sekali. Walau begitu, lagi-lagi tidak ada catatan pendukung terkait hal ini.
“KONON-KONON” YANG MENJADI PENGETAHUAN KANON
Riset di kebumen mulanya menelusuri akar sejarah bagaimana industri genteng bermula, dari arsip-arsip lokal yang tersedia, yang nyatanya sama-sama hampir nihil. Diantara sumber informasi lisan yang kita kumpulkan, kami akhirnya menemukan tambahan informasi dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, yaitu foto-foto pabrik Aboengamar di periode awal kemerdekaan hingga masa akhir Orde Baru, yang ternyata milik keluarga besar Aboe Ngamar, seorang businessman yang memulai industri genteng di Kebumen pada abad 20.
Pabrik Aboengamar sendiri adalah pabrik pertama dan terbesar yang memulai industrialisasi Kebumen, kemungkinan sudah ada sejak awal abad 20, namun tidak ada catatan resmi kapan pabrik tersebut berdiri. Sebelumnya wilayah ini merupakan wilayah yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya, sebelum kemudian wabah Pes menyerang di awal abad 20, dan membuat Hindia Belanda merasa perlu mengganti setiap atap rumah di wilayah Hindia Belanda menjadi terbuat dari tanah liat. Disinilah seorang bernama Aboe Ngamar muncul dan menjadi kolaborator pemerintah Hindia Belanda dalam mentransformasi budaya genteng di pulau Jawa. Dan semuanya bermula dari wilayah Sokka, di Kebumen.
Sayangnya tidak banyak juga bukti sejarah terkait sistem produksi yang dilakukan pabrik ini di masa awal ini. Beberapa informasi yang beredar menyatakan alat-alat yang digunakan didatangkan langsung dari Eropa, saking canggihnya bahkan beredar kabar beberapa tungku sempat diamuk warga.
Cerita yang terakhir adalah cerita yang berkembang di masyarakat, diantara para buruh, dan diantara para pengusaha genteng saat ini. Konon, pada periode tahun 1920-1930an, sejumlah warga meledakkan salah satu tobong atau cerobong pembakaran genteng milik pabrik Aboengamar karena sentimen anti-Belanda yang timbul akibat ketimpangan sosial yang terjadi di Hindia Belanda saat itu. Tidak diketahui pasti siapa dan dimana tepatnya tobong yang dimaksud, namun darisana kami menemukan bahwa kesuksesan pabrik Aboengamar tidak mampu menghindarkan mereka dari sentimen anti-kolonial yang tengah berkembang di masa menuju pergolakan masa revolusi.
Pasca runtuhnya Hindia Belanda, sentimen tersebut nyatanya belum usai. Hingga hari ini, masih banyak buruh atau pelaku industri genteng di Kebumen yang masih beranggapan bahwa Aboe Ngamar adalah semacam antek-antek pemerintah Kolonial. Jika dirunut dari alasan mengapa pabrik milik Aboe Ngamar bisa berkembang, hal ini tentu tidak salah sama sekali.
Dan mengapa arsipnya minim, terkait Aboe Ngamar sebagai tokoh, dan juga Aboengamar sebagai sebuah pabrik. Hal ini lagi-lagi konon, merupakan imbas dari ketiadaan ahli waris resmi dari keturunan langsung Aboe Ngamar. Pabrik yang legendaris itu pun hanya tinggal puing-puing ketika kami menelusuri jejak-jejak sejarah pabrik Aboe Ngamar.
Kompleks tersebut yang kini masuk kepada wilayah Desa Kedawung, Kabupaten Kebumen. Hanya menyisakan beberapa tobong dan ruang pembakaran yang tersembunyi dibalik semak belukar. Walau cukup bersejarah, nampaknya kompleks ini belum sama sekali menjadi perhatian pemerintah daerah untuk sekedar direvitalisasi atau dialihfungsikan secara serius sebagai situs cagar budaya yang terbuka untuk publik.
Setelah Pabrik Aboengamar, tidak pernah ada lagi pabrik genteng berskala besar yang berdiri di Kebumen. Pabrik tersebut perlahan hilang ditelan zaman, dan para buruhnya satu persatu mendirikan replika sederhana dari kerja-kerja pabrik genteng beserta tobongnya. Upaya desentralisasi pengetahuan yang sebelumnya termonopoli dan terpusat di segelintir orang saja, kini berkembang menjadi pengetahuan yang mudah diakses oleh siapapun terutamanya oleh warga sekitar. Kini pabrik dan tobong yang hanya berpusat di wilayah Kedawung, akan mudah kita temui di tengah pemukiman, di pinggiran jalan, selayaknya usaha UMKM biasa.
Upaya ini yang menarik, dimana pengetahuan yang terkapitalisasi oleh kolonial perlahan ter dekolonisasi oleh kebutuhan mendasar warganya, yaitu tersedianya lapangan pekerjaan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal mendasar inilah yang akhirnya membuat satu usaha pabrik dan tobong dan yang lainnya terbiasa membagi sumber daya manusia, tidak ada pabrik genteng yang tertutup, semuanya rela bergotong royong satu sama lain.
SEBUAH DOKUMENTASI TERHADAP ASUMSI
Temuan terhadap pola kerja pabrik genteng di Kebumen, membuat kami merumuskan apa yang akan kami dokumentasikan. Jika di masa kolonial para penguasa modal di masa lalu abai atau bahkan sengaja melewatkan perekaman dari lahirnya industri yang kini bertahan lebih dari 100 tahun, maka tugas saya dan kawan-kawan hari ini adalah merekam denyut nadi yang terus hidup dari sebuah pabrik dan tobong sederhana di tengah pemukiman warga. Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti meratapi ketiadaan arsip-arsip dari masa lalu dan mulai berpikir untuk menciptakan arsip untuk masa depan.
Ann Laura Stoler dalam tulisannya Along the Archival Grain, mencatat bahwa kekosongan arsip kolonial bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan merupakan perwujudan dari politik pengabaian. Mendekolonisasi arsip berarti membaca sesuatu yang tiada sebagai informasi, lalu meruntuhkan segala monopoli pengetahuan. Selayaknya apa yang kami saksikan sendiri dari kerja-kerja dekolonisasi pengetahuan pembuatan genteng dari pabrik Aboengamar menjadi berbentuk desentral ditengah-tengah setiap rumah warga.
Ann kemudian meneruskan bahwa membaca arsip tidak hanya dari apa yang tertulis atau terekam, tetapi juga dari apa yang absen. Dalam hal ini, absennya rekaman audio-visual tentang pabrik Aboengamar atau buruh genteng Kebumen adalah sebuah tanda bagaimana kolonial melihat negara koloninya. Otoritas Hindia Belanda saat itu banyak sekali memamerkan eksotisme budaya Timur, kemegahan infrastruktur, dan bahkan penaklukan militer. Sementara kerja keras komunal dan buruh kasar pribumi dianggap tidak memiliki nilai-nilai pesan yang menguntungkan bagi mereka. Kekosongan ini adalah langkah pertama dalam mendekolonisasi cara pandang kita terhadap sejarah Kebumen.
Disisi lain, sistem kearsipan Barat seringkali bertumpu pada bukti material seperti teks, dan pita seluloid atau audio. Dekolonisasi yang kami coba hadirkan merombak standar ini dengan menyajikan pengetahuan masyarakat adat dan kelas pekerja atau subaltern yang seringkali tidak terwariskan melalui teks, melainkan melalui tradisi lisan atau “konon” dan tentu saja ingatan tubuh itu sendiri.
Lalu bagaimana kami menempatkan kamera dalam hal ini?, tentu saya mencoba menempatkan kamera tidak sebagai mata kolonial yang melakukan dekupase eksotik terhadap apa yang sedang dilakukan buruh. Melainkan membebaskan penonton melihat semuanya dalam satu frame tanpa terlalu banyak terpotong oleh metode cutting dalam editing film.
Hal ini karena Pabrik di era kolonial merepresentasikan sentralisasi pengetahuan dan modal. Runtuhnya kedigdayaan pabrik Aboengamar dan lahirnya tobong-tobong kecil di halaman rumah warga merupakan dekolonisasi praksis kala masyarakat mencoba merebut ulang alat produksi dan mendesentralisasikan pengetahuan yang mereka miliki.
Ketika kamera kini dipegang untuk mendokumentasikan tobong secara komunal, didalamnya terjadi usaha merebut ulang narasi (reclaiming the narrative). Kamera bukan lagi alat kolonial yang memantau setiap jengkal gerak dan mengelaborasi eksotisme warga. Melainkan menjadi alat bagi masyarakat untuk menuliskan sejarah mereka sendiri.
Lantas kami berjalan dengan meletakkan kerja penciptaan film dokumenter TOBONG, tidak sebagai sebuah karya seni semata, melainkan intervensi arsip secara langsung (archival intervention). Kamera kami tidak akan mencari lagi sisa-sisa kedigdayaan mesin dari Eropa, atau kemegahan arsitektur pabrik raksasa yang kini diselimuti belukar. Fokus pendokumentasian dalam film ini akhirnya beralih pada subjek-subjek yang seabad ini termarjinalkan dari catatan sejarah: wajah para pekerja, presisi tangan yang membentuk tanah liat, dan asap tobong komunal yang menyala berdampingan dengan pemukiman warga.
Film ini ingin menangkap bagaimana sebuah industri mampu bertahan melintasi zaman, bukan karena sekedar kebutuhan kapital semata, melainkan juga karena solidaritas. Kami lantas merekam bagaimana sistem kerja yang terbentuk justru sangat cair, gotong-royong dan saling berbagi tenaga satu sama lain. Dan bagaimana pengetahuan yang eksklusif kini diwariskan secara terbuka di ruang-ruang yang begitu dekat dengan semua orang. Seluruh proses ini pada nyatanya adalah praktik bertahan hidup masyarakat yang organik.
Melalui film ini, kami berupaya menjahit ulang celah-celah “dokumentasi yang terlewatkan” dalam sejarah Kebumen. Ini semua bukan hanya perkara romantisasi di masa lalu, melainkan semacam arsip tandingan. Sebuah upaya yang dilakukan secara sadar untuk memastikan bahwa seratus tahun kedepan, generasi selanjutnya tidak perlu lagi meraba-raba dalam gelap gulita ketiadaan arsip, atau bersandar pada narasi “konon” saja, untuk memahami bagaimana masyarakat di Kebumen membangun kemandirian serta peradabannya dari hanya segumpal tanah liat yang menghiasi atap rumah di hampir seluruh penjuru negeri.
Tulisan ini adalah draft pertama (tanpa versi editorial) dari tulisan dengan judul yang sama dan akan diterbitkan pada bulan September 2026, dan dirilis bersama dengan film dokumenter TOBONG. Versi yang akan diterbitkan mungkin akan berbeda versi karena telah melalui proses editorial dan revisi.



Komentar
Posting Komentar