DARI JAFF ARCHIVE KE IFAS: PERENUNGAN DALAM MEMAHAMI DINAMIKA ARSIP FILM NASIONAL
![]() |
| IFAS (Render Digital & Tim Digitasi Puloraya) dan Komunitas Film di Lokananta Bloc, Surakarta, 2024 (Dokumentasi IFAS) |
Banyak yang salah kaprah terkait mundurnya aku dari JAFF Archive dan dimulainya periode ku sebagai bagian dari Indonesian Film Archivist Society (IFAS). Rumor yang menyebut kepergianku ke Thailand tahun 2023, adalah langkah meninggalkan JAFF Archive saat itu. Atau rumor lainnya perkara penelantaran serta pemanfaatan resource yang dimiliki JAFF Archive sebagai batu loncatan menuju kerja-kerja arsip film yang lebih luas seperti IFAS.
Jawabannya, tidak. IFAS justru sejak awal tidak dirancang sebagai proyek utama. Ia hanyalah sebuah kolektif yang bentuknya adalah semacam konsorsium dan forum yang menghubungkan banyak organisasi, bukan kolektif yang bergerak sendiri (dan tidak akan pernah bisa bergerak sendiri!)
Sebelumnya, ini adalah tulisan pertamaku menjelaskan hubungan keduanya yang selama ini beredar liar dengan cara yang rumit, dan keenggananku untuk menanggapi karena rasanya percuma. Namun kini aku merasa perlu menanggapinya, karena keduanya akan terus bersinggungan dalam kerja kerja pelestarian arsip film kedepannya.
Indonesian Film Archivist Society (IFAS) mulanya ada karena konsorsium para pelaku arsip film lintas organisasi, di dalamnya ada representatif dari Lab Laba Laba, Tim Digitasi dan Restorasi film di Puloraya, hingga JAFF Archive (kini bahkan lebih berwarna-warni jejaringnya). Dengan awalnya menempatkan JAFF terutama JAFF Archive sendiri sebagai hub yang penting dalam ekosistem pengarsipan film Nasional kelak. Yang secara bersama-sama para anggotanya juga berjejaring dengan berbagai forum Arsip seperti FIAF, SEAPAVAA, hingga yang terbaru adalah ACPAC dimana aku sendiri menjadi anggota di dalamnya.
Ekosistem yang dimaksud adalah pembentukan jejaring yang sejak awal memang diperkenalkan olehku melalui JAFF Archive. Dari sana muncul sebuah ide untuk membuat wadah yang berisi banyak bendera, dengan masing-masing anggota melakukan sumbangsih materil maupun non-materil (dengan batas-batasan yang ada tentu saja).
Kami bahkan sudah merancang skema pengarsipan film Nasional dan pusat film Nasional di tahun 2023, dengan pertukaran SDM, dimana JAFF Archive dan Yayasan Sinema Yogyakarta diproyeksikan akan ikut andil aktif di dalamnya, terutama tahun 2024 dan seterusnya.
JAFF Archive pada tahun 2023 menemukan masalah yang pelik terkait bagaimana pengarsipan film harus bergerak kedepannya, walaupun nampaknya cukup stabil diluar namun gejolak dan kebutuhan akses semakin mendesak. Akses yang dimaksud adalah akses terhadap jaringan, pengetahuan, dan dana operasional. IFAS menjadi semacam safe place bagi para anggota jejaringnya untuk menggunakannya dalam menambal keterbatasan itu, mulai dari dana, jejaring, hingga status di mata forum arsip Internasional, tentu dengan masih diperbolehkannya membawa organisasi yang ia wakili selain IFAS. Tidak ada tuntutan untuk, kesetiaan atau loyalitas pada satu organisasi secara penuh disini.
Contoh dari hal ini adalah, saat aku harus ke Thailand bersama dengan beberapa rekanan di IFAS di November 2023.
Kenapa harus menggunakan IFAS? karena keterbatasan akses yang kami dapat saat akan mengajukan atas nama JAFF Archive, sebelumnya itu terjadi saat perjalanan di Singapura, tepatnya ke Objectifs dan Asian Film Archive di tahun yang sama. Tidak mendapat tambahan funding, justru mempersulit keadaan.
Kami harus bersiasat, namun dengan tetap bisa mewakili JAFF Archive dan belajar langsung dari kawan-kawan di Thailand tanpa membebani dana dari atau untuk Festival yang sebentar lagi akan berlangsung.
Aslinya, kami yang ke Thai Film Archive saat itu, memperkenalkan diri dengan atas nama IFAS dan organisasi maupun entitas lainnya yang kami wakilkan, tentu aku mewakili JAFF Archive, sehingga seluruh kerja-kerja kami di Indonesia bisa kami perkenalkan dan begitupun mereka mengenali apa yang sedang terjadi di pengarsipan film di Indonesia. Harapannya, akan terjalin kerjasama lebih jauh lintas sektor antara Thai Film Archive dengan berbagai organisasi yang kami wakilkan dari Indonesia.
Sebab kami tahu, bahwa ini adalah kepentingan bersama, dan IFAS sejak awal memang ada untuk wadah guna bersama-sama mendapatkan akses tersebut, tanpa terkecuali.
Catatanku terhadap proses pelestarian film di Thai Film Archive, dari sejak reparasi film, digitasi, hingga restorasi, dan katalogisasi bahkan masih tersimpan rapih, dan belum sempat aku transfer pengetahuan itu ke tim JAFF Archive setelahnya. Yang seharusnya aku turunkan untuk melengkapi SOP JAFF Archive yang sedang kami susun tahun itu.
Begitulah IFAS mulanya dirancang. Sebuah forum bersama, sebuah wadah bersama, untuk mengumpulkan SDM yang ada, untuk menjalankan pengarsipan secara desentralis seperti yang sering kami sering ucapkan.
Lantas, dinamika internal JAFF Archive sejak kepulanganku dari Thailand justru bergejolak karena nampaknya banyak yang salah memahami apa yang dimaksud dan aku pun tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya, semuanya sudah terlampau liar dan membuatku akhirnya memutuskan dengan sadar untuk mengundurkan diri di tahun 2024 awal.
Namun apapun yang terjadi, aku mengakui beberapa keputusan yang aku ambil memang nampaknya terlalu terburu-buru, membuat beberapa miskomunikasi terjadi, dan lebih baik aku berhenti dari JAFF Archive serta berjarak untuk sementara waktu.
Tentu konsekuensinya adalah, JAFF akan kembali berjarak dalam pengarsipan film (lagi). Namun aku tidak pernah melupakan apa yang diperjuangkan JAFF Archive dan kawan-kawan di JAFF, dari sejak awal berdiri. Ada semacam tanggung jawab moral perkara ini.
Sehingga satu-satunya cara tetaplah membawa isu kebutuhan arsip di JAFF di beberapa forum dan simposium yang aku terlibat langsung, seperti SEAPAVAA dan ACPAC. Selagi aku menjaga jarak selama beberapa tahun.
Serta juga tetap memberikan akses terhadap jaringan lainnya seperti yang terjadi pada Tya (IFAS), dan Cacuy (JAFF Archive) untuk bisa menuntaskan proposal mereka dan pergi ke India untuk mengikuti workshop arsip film bersama Film Heritage Foundation dan FIAF di sana pada tahun 2024. Hal-hal sederhana seperti inilah yang selalu aku percaya akan menimbulkan dampak lebih besar, setidaknya untuk pengarsipan film Nasional kita yang serba terbatas ini secara infrastruktur dan SDM yang harus terus beregenerasi.
Namun walau begitu, tahun-tahun pasca JAFF Archive itu, membuatku memahami banyak hal terkait bagaimana dinamika yang terjadi di perfilman kita, dan bagaimana kita menyikapinya. Selayaknya sebuah industri yang bercampur banyak kepentingan, tentu kompromi dan saling memahami adalah sesuatu yang krusial, hal yang bertahun-tahun terus aku pelajari dan renungkan.
Kini dengan membantu secara tidak langsung kawan kita, Juju di BPI dalam hal mengatur ekosistem Pelestarian Film yang saling terintegrasi, menjadi alasan utama mengapa aku harus mulai menuliskan apa-apa saja yang sudah aku lakukan bersama JAFF Archive selama ini, hal yang selalu aku hindari karena rasanya aku masih perlu berjarak.
Namun dengan kondisi JAFF Archive belakangan ini, langkah mencatat ulang seperti ini, merupakan sebuah tindakan yang penting untuk mendokumentaskan bahwa kerja-kerja di festival film mampu menimbulkan perubahan yang cukup krusial bagiku pribadi dan bagi ekosistem film dan pelestarian film yang kelak akan kita bangun bersama.
Aku berharap JAFF Archive bisa terus melanjutkan kerja-kerja pelestariannya walaupun itu dalam lingkup yang cukup internal. Tentu, aku dan kawan-kawan siap membantu jika memang dibutuhkan kapan saja. Karena di JAFF Archive semua ide-ide ini dimulai, sebuah kehilangan cukup besar bagi pengarsipan film Nasional jika ternyata segalanya harus berhenti begitu saja.
Tulisan ini aku buat, bukan untuk mengkoreksi apa yang telah beredar, namun untuk menceritakan secara runut hubungan diantara kedua entitas yang melekat padaku selama bertahun-tahun.
Sebab semuanya akan tetap terjalin dan kerja-kerja perawatan arsip film secara gotong royong adalah tanggung jawab kita bersama.



Komentar
Posting Komentar