JAFF ARCHIVE - OPENTHESIS PROGRAMME (2023): MEMBACA ULANG JAFF DARI BERBAGAI PERSPEKTIF DAN MEMBAYANGKAN KEMUNGKINAN LAINNYA

Tim JAFF Archive - Openthesis, bersama Anggun Priambodo dan Riksa Afiaty dari IVAA
(Dokumentasi JAFF Archive 2023)


Pada tahun 2023, setahun setelah JAFF Archive memulai ceritanya sendiri dalam skena pengarsipan film Indonesia, kami mencoba untuk mencari dan memikirkan sebuah program yang dapat menampung kebutuhan mendasar dari mendaur ulang pengetahuan melalui arsip-arsip yang ada. Saat itu JAFF memiliki kurang lebih 1400 arsip yang semuanya terdiri atas film, film related material, dokumen, katalog, dll. Arsip-arsip itu telah terkumpul di awal tahun 2023 dalam beberapa harddisk external dan siap untuk diolah kembali melalui berbagai bentuk program.

Masalah utama JAFF Archive pada tahun 2022, adalah pendanaan (tentu saja). Dan rasa-rasanya ini masalah klasik institusi budaya di Yogyakarta, dimana organisasi kebudayaan mayoritas mendapat dana hibah dengan dua cara, memproduksi karya atau membuat festival dan semacamnya. Kegiatan pengarsipan yang seringnya berada dibelakang layar, jauh dari spotlight tentu bukan suatu kegiatan seksi pada saat itu bagi pemberi dana, sekalipun itu adalah Pemerintah Daerah maupun Pusat.

Maka di tahun 2022 akhir, aku mencoba menegosiasikan di dalam internal Yayasan tentang skema dan keleluasaan pendanaan terpisah di departemen JAFF Archive. Singkatnya, kerja-kerja JAFF Archive harus diberi kebebasan untuk mendapatkan pendanaan sendiri, sehingga ia tidak terlalu bergantung pada pendanaa yang didapat festival dan juga tidak menganggu dana yang didapat oleh festival. Sebab, JAFF adalah sebuah event besar, tentu biaya yang digunakan akan sangat massif, dan ketergantungan kami terhadap dana dan sponsor melalui festival tentu akan mengurangi ruang gerak kami di dalam departemen dengan sangat cukup signifikan.

Maka kami mencoba untuk melakukan apply terhadap funding yang tersedia di luar Indonesia, saat itu pendanaan yang tersedia adalah Purin di Thailand. Purin Foundation sebenarnya bukan nama yang asing bagi kami di JAFF. Aditya Assarat salah satu board di Purin beberapa kali beririsan dengan kerja-kerja di JAFF pada edisi-edisi sebelumnya. Begitupun kawan-kawan di JAFF dalam kapasitas mereka sebagai pembuat film sering bersinggungan dengan Aditya di Thailand.

(Draft proposal dari pengajuan program kami saat itu bisa diakses di sini.)

Dalam rancangan program pada tahun itu, JAFF Archive mencoba untuk melihat sesuatu yang lebih luas dari sekedar penyelamatan materi arsip film saja. Namun ia membuka kemungkinan terhadap akses publik melalui program penayangan film, forum, hingga workshop. Yang terakhir yang akan menjadi fokus kita dalam pembahasan kali ini.

Kelas Openthesis 2023 bersama Dyna Herlina
(Dokumentasi JAFF Archive 2023)

Openthesis sepenuhnya merupakan ide dari Azalia Syahputri (Azel) yang menyampaikan ide tersebut saat kami berdua merancang proposal untuk Purin. Kami mengerjakan proposal itu ditengah-tengah festival dan mengirimnya pun ditengah-tengah festival JAFF 2022. Openthesis memiliki spirit sebagai program pembacaan arsip yang sifatnya inklusif kepada banyak latar belakang peserta, tidak harus dari latar belakang film.

Jika ditelusuri, ide ini sebenarnya merupakan bagian dari pengalaman empiris ku dan Azel di Minikino. Tempat dimana kami berdua juga berasal. Aku dan Azel merupakan alumni program Film Festival Writer di Minikino Film Week 2021-2022 (tulisanku dan Azel saat di Minikino bisa dibaca di sini dan di sini). Sehingga program ini sedikit banyak mengambil cara bagaimana festival film melakukan kerja-kerja pembacaan film, dengan output tulisan. Bedanya Openthesis difokuskan pada arsip film JAFF dari lintas periode.

Azel pada akhirnya bertanggung jawab penuh atas jalannya program ini, sementara aku bertanggung jawab pada hal-hal yang sifatnya birokratis secara internal maupun di luar organisasi.

Openthesis berjalan di antara bulan Juli atau Agustus 2023 (aku sudah agak lupa). Tapi intinya program ini  bekerjasama dengan Cinemartani sebagai fasilitator, dan dibantu Pychita Julinanda (Cahya) sebagai editor tulisan, bersama 4 orang peserta dari berbagai latar belakang, umumnya dari seni rupa.

Program ini menjadi program yang penting dalam hal membaca kembali bagaimana arsip dapat direlevansikan ulang hari ini dalam kerja-kerja kebudayaan yang terus dinamis. Kritik terhadap JAFF tentu saja merupakan bahan bakar dalam melakukan pembacaan. Institusi JAFF yang terkenal elit coba kami baca ulang juga sebagai sebuah fenomena kebudayaan sinema kontemporer saat ini. Maka dari itu, kawan-kawan seni rupa yang terlibat kami arahkan untuk membaca bagaimana JAFF bergerak dan bertransformasi dari masa ke masa melalui program dan melalui perubahan tatanan kebudayaan disekitarnya dalam lingkup lokal maupun nasional.

Tentu sebelum melakukan pembacaan arsip, ada semacam kelas pembekalan yang diisi oleh Dyna Herlina, Nosa Normanda, Budi Irawanto, Anggun Priambodo dan Riksa Afiaty. Kami juga membuat semacam program menonton bareng arsip-arsip yang kami miliki untuk membayangkan bagaimana JAFF bertransformasi melalui program-programnya. Hal ini dilakukan untuk merekonstruksi cara berpikir dan metode yang pas untuk membaca arsip-arsip tersedia. Mulai dari membaca dari konteks festival seperti yang dijelaskan oleh mbak Dyna, melalui antropologi seperti Nosa, melalui estetika film pendek Asia seperti yang dijelaskan oleh pak Budi, atau melalui aktivisime dan arsip seperti Anggun dan Riksa.

Konstruksi berpikir ini penting untuk memberikan keberagaman cara berpikir dan bagaimana kemudian kawan-kawan bisa membayangkan bagaimana arsip sinema dapat ditarik ke dalam banyak konteks disekitar kita.

Output dari program ini sebenarnya adalah sebuah Zine dan Program Presentasi saat JAFF. Namun bagiku yang menarik dari program ini adalah bagaimana, arsip JAFF untuk pertama kalinya dibaca dari berbagai macam perspektif, dari konteks festival itu sendiri, gender, historis, hingga estetis. Keberagaman inilah yang kemudian kami coba showcase di festival melalui program presentasi dan diskusi.

Dalam proses penulisan, aku yang saat itu tidak di Indonesia, berusaha mendampingi kawan-kawan secara online dengan melakukan revisi editorial bersama Cahya hingga bahkan tengah malam. Namun disinilah serunya diskusi berjalan tentang bagaimana sebuah tulisan harus bisa mengcapture apa yang suatu karya coba untuk suarakan.

Tentu program ini tidak sempurna, ada beberapa kekurangan seperti lemahnya publikasi saat festival yang membuat saat forum berlangsung kurang tersiarnya kabar terkait forum ini, namun itu telah menjadi catatan kami di akhir program. 

Sayangnya program ini tidak dilanjutkan pada tahun-tahun sebelumnya, aku sendiri tidak tahu alasannya, namun disisi lain tidak lama setelah festival aku mengundurkan diri. Sehingga tidak terupdate apapun terkait perkembangan para alumni program ini.

Walau begitu aku dan beberapa alumni dari program Openthesis masih terhubung, di kegiatan-kegiatan pasca JAFF 2023. Aku dan Cyntara bekerjasama dalam beberapa program antara IFAS dan PSBK perkara arsip-arsip film, beberapa kali bertemu Maqin di Krack Studio, atau bersinggungan dengan Yoga di beberapa kegiatan seni di kota Jogja. Melihat apa yang didapat dari Openthesis bisa tumbuh bersama dengan kawan-kawan yang masih aktif di kesenian tentu menjadi kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Dan setelah beberapa tahun terlewati, akhirnya aku mencoba untuk mencatatnya melalui tulisan ini, dan mencoba membagikan arsip-arsip yang bisa dibagikan pada program tersebut. Semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkannya.


________________________


- Zine JAFF Archive Openthesis 2023 bisa diakses di sini

- Selain itu berkut beberapa dua arsip rekaman online dari kelas Openthesis 2023, selamat menyaksikan!

    - Kelas Openthesis 2023 - Nosa Normanda




    - Kelas Openthesis 2023 - Dyna Herlina


Komentar

Popular Posts