JAFF ARCHIVE: SEBUAH GAGASAN DAN HARAPAN PELESTARIAN FILM YANG AKAN TERUS BERUSAHA RELEVAN

 


Foto diatas adalah foto yang aku ambil saat presentasi dari Azalia Syahputri (Azel) tentang perjalanannya di Il Cinema Ritrovato pada beberapa bulan lalu. Presentasi itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 3 Oktober 2026, di kantor Yayasan Sinema Yogyakarta. Namun bagiku ini bukan hanya sekedar presentasi, namun ini juga mungkin menjadi momen terakhir aku menyaksikan Azel dan JAFF Archive sebelum perubahan masif terjadi dengan JAFF Archive, sebuah perubahan yang berusaha merelevansikan ulang kerja-kerja pelestarian di dalam tubuh Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sekaligus membuka lembaran baru JAFF Archive setelah Azel dan aku membentuk serta memimpin tim kerja arsip ini selama total 4 tahun (Aku 2 tahun dan Azel 2 tahun).

Tulisan ini merupakan sebuah catatan yang selalu aku tunda untuk tuliskan karena beberapa faktor, dari hal personal hingga institusional. Namun rasanya, sejak malam tersebut, catatan ini nampaknya penting sebagai pengingat bahwa JAFF Archive tidak hanya sekedar ruang pelestarian di kantor Yayasan Sinema Yogyakarta, namun juga sebuah gagasan yang secara tidak langsung praktik-praktiknya diteruskan oleh para aktivis perfilman di bidang arsip saat ini. Sebuah gagasan, yang akan terus tumbuh dan akan merelevansikan ulang dirinya terhadap perubahan zaman dan manusianya. Sebuah gagasan tentang, Desentralisasi Arsip, sebagai sebuah kritik dan solusi atas budaya festiv sinema Indonesia hari ini.


LAHIRNYA GAGASAN

JAFF Archive lahir bukan dengan sebuah keinginan untuk menyelamatkan sinema Indonesia secara utuh, ia lahir atas keinginan untuk menyimpan dirinya sendiri, menyimpan kerja-kerja JAFF sebagai sebuah festival yang sudah bergerak selama belasan tahun. Namun, disisi lain ia juga hadir dari keinginan dan eksperimen terhadap pengawinan "Festival" dan "Arsip".

Di tahun yang sama ketika aku dan Azel diminta untuk mengerjakan proyek "JAFF Archive" pada tahun 2022, di tahun yang sama kami menggagas riset desentralisasi arsip melalui program Jogja Film Archive ke 2. Program tersebut bekerjasama dengan IVAA, 4:3 Film Festival di Ukraina, dan juga tentu saja dengan para pembuat film pendek seperti Wimo Ambala Bayang (MES56), dan kolektif studi film Cinemartani.

Pada saat itu kami mempertanyakan kerja-kerja pengarsipan yang telah dilakukan oleh banyak kolektif terutama di kota Yogyakarta, IVAA yang menyimpan film-film pendek, MES56 yang mendaur ulang arsip-arsip visual menjadi karya baru, atau bahkan Cinemartani yang melakukan pembacaan ulang terhadap arsip yang telah tercecer.

Kerja-kerja yang terpencar di kota Yogyakarta menjadi sebuah studi kasus bagaimana keterhubungan diperlukan sebagai suatu solidaritas yang sungguh perlu dalam melakukan kerja-kerja pelestarian dan pembacaan ulang arsip film di kota Yogyakarta secara mandiri dan sustain.

Selain itu, latar belakangku dan Azel yang berkelindan dengan kerja-kerja riset dan kuratorial lintas disiplin di kota Yogyakarta, turut membentuk cara berpikir kami berdua saat itu tentang konsep "kolaborasi kolektif". Aku dan kerja-kerja di Biennale Yogyakarta saat itu dan Azel di Minikino Film Week.

Kami menemukan kecenderungan "gotong royong" sebagai sebuah kerja yang tidak terpisahkan dalam upaya penyelamatan dan pembacaan ulang arsip dari apa yang dilakukan oleh Biennale Yogyakarta dan Minikino Film Week, tempat kami bernaung saat itu. Hal-hal tersebutlah yang mulai kami gabungkan dalam kerja-kerja kami di Jogja Film Archive ke 2 tahun 2022.

Hingga tibalah, JAFF melalui Intan Nadya (Festival Manager), membawa gagasan kerja pelestarian internal di JAFF yang cukup sederhana, yaitu menata ulang arsip JAFF yang masih tercecer saat itu. Apa yang seharusnya kami terapkan di Jogja Film Archive tahun selanjutnya justru kami belokkan ke JAFF Archive, sebuah prototype yang akan membuat aku dan Azel mempertanyakan, sejauh mana kerja kolaboratif ini bisa bertahan di institusi kebudayaan seperti JAFF, yang saat itu kami lihat menjadi pusaran industri perfilman Indonesia hari ini.


DIMANA POSISI ARSIP?

Konsep JAFF Archive sebenarnya dibangun olehku dan Azel, namun tentu hal ini tidak terlepas dari inisiatif dari Intan Nadya sebagai Festival Manager dalam membayangkan pengarsipan arsip di dalam organisasi, jadi aku selalu menganggap founder dari ruang pelestarian ini adalah Aku, Azel dan Intan.

Bagi kami yang bekerja dan berkegiatan di perfilman, JAFF merupakan institusi kebudayaan yang sungguh besar, dan kadang dipandang "elit" oleh sebagian orang. Walau sebenarnya kerja-kerja komunalnya dan komunitasnya masih kental di dalam. Perpadua citra dan realitas terkadang bertabrakan. Hal yang sebenarnya wajar bagi lembaga kebudayaan di Yogyakarta. Bukan hal yang aneh dan asing bagiku saat itu. Aku dan Azel tentu menyadari dan sama-sama tidak asing, namun kami sepakat untuk menguji sampai mana batas itu bisa dinegosiasikan.

Arsip yang tercecer dan terpencar tentu adalah pemandangan awal arsip JAFF yang kami lihat pertama kali saat itu. Mulai dari kontainer yang berisi vcd-dvd tak beraturan, harddisk yang tidak tersusun rapi filenya, hingga vhs yang berjamur.

Namun dari sinilah kami bertanya bagaimana arsip diposisikan oleh festival setelah ini?

Tentu pada akhirnya kami harus berhadapan dengan prioritas organisasi, budaya organisasi ada karena festival dan Festival menjadi sumber utama pendanaan. Singkatnya, kami harus bersiasat untuk menemukan cara agar kerja-kerja pelestarian berjalan dengan cara mencari pendanaan terpisah, cukup effort namun tentu dalam prosesnya aku dan Azel dibantu oleh para board seperti Ifa Isfansyah, Ajish Dibyo, Intan, dan Lalu Roisamri.

Sejujurnya melalui logika penganggaran, penempatan program dalam proposal, kami bisa membayangkan ini adalah kerja yang harus berada dibawah Yayasan dan tidak dicampur aduk oleh kerja Festival. Maka dari itu, sejatinya posisi pengarsipan setidaknya sampai terakhir aku berada di JAFF, selalu kami posisikan berada dibawah Yayasan tidak dibawah Festival, atau jika memang ada kepentingan Festival bisa menyertakan agenda arsip menjadi bagian yang lebur dalam program Fringe, Public Lecture, Community Forum, dsb. Namun secara defacto ia harus memiliki keleluasaan untuk split funding melalui organisasi. 

Sehingga menempatkan kerja arsip dibawah organisasi bukan dibawah festival merupakan penemuan positioning kami yang cukup krusial pada saat itu.

METODOLOGI KERJA

Sejujurnya, poin ini aku juga bingung menjelaskannya karena hingga hari ini, JAFF Archive nampaknya belum menemukan metodologi pakem dalam alur kerja pengarsipan dan perawatan. Di tahun 2022-2023, alur kerja itu sempat disusun dalam sebuah sites google, yang hanya bisa diakses oleh tim kerja JAFF Archive, namun itupun belum selesai.

Sehingga disinilah pentingnya pada tahun 2023, aku dan Azel berpikir untuk melebarkan jejaring JAFF Archive, secara Nasional maupun Global.

Namun sebelum itu yang perlu diperhatikan, pada tahun 2023, aku dan Azel membagi tugas masing-masing siapa yang bertanggung jawab untuk Outreach dan siapa yang bertanggung jawab dalam diplomasi secara internal maupun eksternal. Perbedaannya terletak dalam posisi kami berdua, aku yang saat itu menjadi Head Department dan Azel yang menjadi Manager Program. Jadi kesepakatan terjadi melalui aku dan Azel bertugas untuk membuka percakapan tersebut.

Pembagian ini krusial, karena jika antara aku dan Azel terputus salah satu, itu akan membuat kerja JAFF Archive pincang, karena aku memahami kapasitasku secara kemampuan, dan saat itu Azel juga menyadari kapasitasnya. Dengan tetap memprtahankan asas kolaborasi disetiap programnya.

Kolaborasi tersebut adalah spirit Desentralisasi yang dimaksud, dari program kolaborasi penayangan, dan yang puncaknya ada di program Openthesis, dimana masing masing kolaborator berbagi resource untuk membaca ulang arsip JAFF.

Dinamika kerja seperti ini kemudian membuat JAFF Archive tahun 2023, memiliki akses untuk studi banding ke Singapura yang dimana Azel melakukan perjalanan tersebut dan Thailand dimana aku yang akhirnya pergi kesana.

Hal ini penting dilakukan karena di Indonesia, tidak ada metodologi pelestarian arsip yang mampu diakses secara terbuka saat itu, tidak ada forum, tidak ada jaringan yang terhubung. Jadi kami perlu memiliki akses terhadap jaringan diluar Indonesia untuk melakukannya. Dengan harapan harus kembali dan menuliskan ulang apa yang kami temukan diluar sana.

ARSIP YANG POLITIS

Ini adalah poin terberat yang aku dan Azel alami dalam memimpin tim kerja JAFF Archive, karena kami kurang mempertimbangkan sisi politis perfilman yang cukup dinamis dan kencang di dalam maupun diluar JAFF.

Kami menyadari bahwa hal ini perlu disikapi cukup bijak, namun ini membuat aku setidaknya sadar, bahwa menyadari faktor ini adalah sesuatu yang penting dari awal, untuk menentukan sikap jika suatu hal terjadi.

Tentu banyak hal terjadi terkait hal ini yang tidak bisa aku tuliskan begitu saja, namun ketidak mampuan ku menimbang secara bijak keputusan-keputusan ini membuatku akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri secara sukarela pada tahun 2024 awal. JAFF Archive lantas diestafetkan kepada Azel sejak saat itu.

Dan setelahnya aku tidak begitu banyak terupdate apa yang terjadi sampai tiba pada 3 Oktober 2026, ketika aku kembali ke kantor JAFF dan Azel mempresentasikan kerja-kerjanya untuk yang terakhir kali di kantor JAFF.

MEMBACA ULANG RUANG DAN ARSIP FILM JAFF

Pasca itu aku bergerak bersama Indonesian Film Archivist Society (IFAS), sebuah side project yang tidak aku rencanakan menjadi proyek utama. Dari sini aku berusaha memahami kerja politis pengarsipan film dan seputarnya. Tentu JAFF Archive masih sering aku sebut dalam perbincangan arsip film Indonesia yang isinya cuma "kita-kita doang" karena memang orangnya sedikit.

Peleburan kerja-kerja dan kolaborasi mulai terbuka adalah karena seringnya persinggungan Liarsip dan IFAS di forum SEAPAVAA. Kenapa selalu kami? Karena kami secara perlahan memahami singgungan politis ini. Kami sebenarnya bergerak beriringan tapi memang bukan dalam circle pertemanan yang sama, namun perlahan karena singgungan itu kami mulai berinteraksi satu sama lain, terutama Lisabona, Efi, dan Juju yang selalu berkomunikasi denganku dan tim IFAS lainnya.

Hingga momen penting terjadi saat BPI menunjuk Juju sebagai kepala Biro Pelestarian Arsip Film BPI, dan ia mulai menggaungkan ulang "Desentralisasi Arsip" setelah beberapa kali aku presentasikan di forum-forum arsip film regional. Dengan pemahaman, pengarsipan dilakukan secara gotong royong antar kolektif dengan resource yang saling berbagi satu sama lain. 

Gagasan yang sama, yang aku bincangkan dengan Azel beberapa tahun sebelumnya, dimana JAFF Archive menjadi prototype di dalamnya. Menjadi alasan kenapa, JAFF dipilih untuk presentasi di beberapa FGD Arsip Film BPI.

Sayangnya disaat bersamaan aku mendengar kabar kurang baik di JAFF Archive karena Azel tidak lagi disana. 

Mendengarkan presentasi Azel malam kemarin, tentu membuat perasaanku campur aduk, 4 tahun dengan masing-masing aku dan Azel mewujudkan gagasan desentralisasi arsip  dengan tentu saja dinamika yang terjadi secara personal dan institusional diantara kami semua, dalam ruangan kecil bernama JAFF Archive, tentu tetaplah menjadi sebuah perjalanan penting bagi masing-masing dari kami yang sulit untuk dilupakan.

Azel sendiri masih aku anggap sebagai satu-satunya orang yang memahami core desentralisasi arsip karena memang kami yang "menggodok" gagasan itu sejak awal. Bahkan bereksperimen dengannya melalui berbagai program. Di tengah pandemi dan pasca pandemi, di tengah banyak keterbatasan. Apapun yang terjadi diantara kami menjadi pembelajara yang penting, dan aku berharap dia bisa terus mempertahankan semangatnya dimanapun ia berada.

Sepulang dari kantor JAFF, aku mencoba kembali berpikir tentang gagasan awal dari lahirnya JAFF Archive, sebuah ruang untuk merawat ingatan JAFF dan orang-orangnya, mereka yang berkarya bersama JAFF dan tumbuh bersama JAFF. Kenapa kita tidak kembali ke perkara sederhana? menyimpan ingatan tentang mereka semua, tentang siapa yang datang dan pergi, tentang siapa dibalik JAFF, dan apa yang dilahirkan oleh JAFF dari masa ke masa.

Ruang ini akan menjadi ruang yang dinamis, mengikuti JAFF dan orang-orangnya yang terkenal begitu dinamis ditengah perubahan terjadi.

Dengan dan tanpa aku dan Azel tentu saja. 



*bonus beberapa dokumentasi JAFF Archive dan kolaborator di program Openthesis!



















Ruang JAFF Archive tahun 2022

Komentar

Popular Posts