MELIHAT JAFF DARI AKARNYA: INDIE CORNER DAN ARSIP-ARSIPNYA

JAFF Archive: Indie Corner, Empire XXI, Yogyakarta, 2023
(Dokumentasi Pribadi)



Di tahun 2023, kami merancang sebuah exhibition yang mencoba menghighlight salah satu program yang usianya cukup tua di JAFF. Ketika banyak program sudah berevolusi, ketika banyak programmer datang dan pergi, section ini seperti tenggelam dan terlupakan atau jarang ada orang yang mengingatnya. Independent Corner atau sering aku sebut Indie Corner.

Pertanyaannya, mengapa saat itu JAFF Archive memilih Indie Corner sebagai perkenalan dari JAFF Archive itu sendiri saat pertama kali muncul ke publik? Kenapa bukan section program lain di main competition di dalam festival dan sejenisnya? Atau bikin saja section baru sendiri tanpa embel-embel Indie Corner?

Cerita itu bermula setahun sebelumnya, di suatu malam pada bulan Juli 2022, di Kantor JAFF, aku mulai mencoba scanning terhadap katalog yang mana datanya sedang aku input ulang di database JAFF Archive saat itu. Belum ada volunteer, belum ada internship, partner ku satu-satunya, Azel masih berada jauh di Denpasar. Satu tim JAFF Archive belum terbentuk secara utuh. Ruangan JAFF Archive masih kosong, belum ada PC maupun lemari arsip.

Namun aku mencoba sendiri melakukan scanning dan pendataan ulang tabel database JAFF tahun itu. Saat itu, aku melihat tumpukan arsip katalog berbentuk berbeda dan nampaknya tidak lagi digunakan oleh siapapun, salah satunya terbuka, sisanya ada yang masih terbalut plastik, bersanding dengan katalog merah JAFF edisi pertama, dengan ilustrasi dari Kill the DJ (Juki).

Yang tidak banyak orang ketahui, tahun itu JAFF membuat dua katalog, satu katalog festival utama (berwarna merah), dan satu lagi berwarna kuning-orange khusus Independen Corner.

JAFF di edisi saat itu paling aku sukai, statement independensi, membawa sinema Asia yang cukup terpinggirkan saat itu, hingga Yogyakarta sebagai kota yang punya potensi untuk menjadi kota sinema dengan budaya menontonnya. Semua mimpi-mimpi dari anak-anak muda Jogja itu nampak tertuang di sepanjang katalog dan bentuk-bentuk programnya. Dan Indie Corner mengumpulkannya menjadi satu, tidak hanya dalam susunan filmnya, namun bentuk dan experience menonton.

Aku masih menyimpan katalog tersebut, dan tentu saja akan aku share ke kalian! DI SINI 

Sejujurnya, katalog ini buatku sangat berkesan karena sebagai seseorang yang baru mengenal JAFF secara langsung di tahun 2019, membaca JAFF dari sejak pendiriannya membuatku memahami spirit asli dari festival ini yang sangat akar rumput bagi komunitas film, terutama di generasinya (2000-an awal). 

Seperti yang tertuang dalam teks programnya:

HOW INDIE R U ?

Film indie tidak anti film major. Film indie adalah alternative atas keseragaman yang ada selama ini. Indie merupakan semangat, bersamanya juga menempel tanggungjawab kreatif atas apa yang kita kerjakan. Banyak dari kita yang berlindung di bawah kata-kata indie. Indie dianggap sebagai jargon yang bisa memberi nilai tambah bagi film, musik, komik atau produk-produk lainnya. Nggak sedikit pula yang menjadikan indie hanya sebagai batu loncatan untuk meraih gelar major label (konon menjanjikan suatu kesuksesan yang berlebih dibanding di jalur indie). Saya sempat berpikiran negative, jangan-jangan teman-teman saya menggunakan kata indie untuk membentengi kelemahan mereka. Jangan-jangan teman-teman saya bersikap defensive atas proses kreatif mereka yang “asal-asalan” sehingga bila mendapat kritik, temen-teman saya dapat mempertahankan diri dengan berkata “ini kan film indie!”

Sebenarnya ini sudah lama menjadi dilema di dalam diri saya apakah saya harus mengetahui seluk beluk indie atau saya kehabisan waktu untuk “belajar” tentang indie dan pasti saya jadi kuper untuk sementara waktu. Pada akhirnya saya memutuskan untuk bertapa dan tanya sana sini untuk tahu apa sih indie atau independent itu sebenarnya.

Ada 2 hal penting menurut saya: independent itu lebih pada semangat untuk melakukan segala sesuatunya “sendiri” (DIY Do It Yourself), tidak terpengaruh oleh kekuatan luar yang mekontaminasi apa yang saya anggap ideal, dari proses pra produksi sampai distribusi. Yang kedua, independent bukan diukur dengan duit. Tidak semua film indie diproduksi dengan mini budget, dan tidak semua film yang diproduksi dengan dana besar adalah film major.

Saya pikir, indie memiliki komunitas tersendiri, indie punya selera tersendiri, indie memiliki pasar tersendiri, indie bisa menjadi suatu industri, dan sangat mungkin indie menjadi “major label” suatu hari nanti. Selama kita bisa mempertahankan semangat untuk ber-DIY, kerja keras, dan serius maka kesuksesan hanya soal waktu!

How indie are you? Jawabnya ada di Independent Corner JAFF 2006! Datanglah ke Indie Corner JAFF 2006, tonton filmnya, rasakan semangatnya, tangkap inspirasinya!

nuwun... 

Bambang "i-poenk" K.M 

Koordinator Independent Corner


Mas Ipoenk menulis dan tentu mempertanyakan ulang indie film dalam skena perfilman saat itu yang tentu akan selalu relevan hingga hari ini. Serta menempatkan indie film sebagai arena yang berbeda dari major film. Membaca tulisan catatan program tersebut berkali-kali hingga saat aku menuliskan tulisan ini masih saja membuatku kagum dengan program yang dibikin olehnya dan kawan-kawan di JAFF saat itu. Dimana mereka melihat indie sebagai sebuah semangat komunal yang perlu dipandang secara serius dan ditempatkan secara serius dalam landskap perfilman kita yang sedang tumbuh.

Jika kalian lihat dari katalog tersebut, festival ini mengumpulkan banyak sekali spirit komunitas dengan gaya kurasi yang cukup berbeda dari katalog festival yang utama. Dari KONFIDEN, Video Battle (milik MES56), Minikino (yang saat itu belum jadi festival organizer), hingga KINOKI (milik Elida Tamalagi di daerah Kotabaru, Jogja). 

Katalog ini lebih kaya akan informasi terkait komunitas film di Indonesia pasca reformasi, belum lagi jika kita menyusuri karya-karya film dan video pendek yang ditayangkan pada program tersebut.

Pengalaman menontonnya pun tidak kalah menarik masing-masing ditempatkan di dalam bilik dengan menu film yang sudah disiapkan, masing-masing bilik punya menu sendiri (arsipnya masih ada di kantor JAFF, di ruang JAFF Archive tapi belum sempat aku scan waktu itu), dokumen arsip yang aku maksud bertajuk Restaurant Film. Jika suatu hari ada yang ingin mengeceknya ulang.

Sejujurnya membaca ulang catatan program Indie Corner selalu membuatku selalu percaya bahwa film pendek bisa menjadi ruang kebebasan yang mutlak tanpa ganggu gugat, dengan JAFF yang selalu bisa menjadi wadah bagi mereka untuk bereksperimen dengan penontonnya. Dan begitulah sebuah generasi membentuk ekosistem film dimana indie corner bisa menjadi major label seperti suatu hari nanti, seperti kata mas Ipoenk dan kawan-kawan di JAFF pada masa itu.




22 September 2022, Kontainer berisi film itu datang ke kantor JAFF, kontainer itu nampak tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun, dan diantara semuanya, aku masih ingat betul, aku paling bersemangat membuka kontainer pink bertuliskan "Independen Corner Only !!!", guna melihat apa saja yang ada di dalamnya. Dan bertumpuk-tumpuk VCD-DVD ada di dalamnya dengan tidak beraturan, namun ada beberapa album VCD-DVD dari tahun 2006 yang menarik perhatianku. Album itu terletak di dasar box, tertimbun kaset-kaset DVD lainnya.

Disanalah arsip dari program-program ini berada. Memang, tidak semuanya bisa diselamatkan karena usia, namun sebagian mampu aku digitasi ulang dalam format .iso dan h264 di akhir tahun 2022. Sayangnya aku tidak punya dokumentasi dari album tersebut. Semoga kondisinya masih terawat sampai sekarang, salah satu arsip tertua yang disimpan oleh JAFF, menurutku menjadi suatu yang penting untuk dijaga.




Seingatku, salah satu film tertua karya kawan-kawan di Jogja, yang disimpan oleh JAFF Archive adalah film tahun 2001, film dari mahasiswa UPN Veteran Jogja. Entah siapa yang membuat, dan aku lupa judulnya juga (maaf). Namun ada adegan mereka di lobi kampus dengan kamera top angle ala-ala Nayato di era keemasannya dulu. Tentu saja pencahayaannya under-expose!.

Selain itu juga ada karya anak-anak non skena film, seperti dari fotografi dan seni rupa, lewat program Video Battle milik MES56. Program ini cukup legendaris di kota Yogyakarta, sebab merupakan kompilasi art video karya kawan-kawan interdisiplin yang terus dilakukan oleh MES hingga tahun 2020-2021.

Bahagia rasanya, melihat eksperimen dan rasa tidak takut dari para pembuat film atau seniman video muda di masa tersebut, sebuah dunia yang bebas, sebuah teknologi yang cepat berganti hanya dalam waktu beberapa tahun. Sebuah lensa yang begitu personal. Sebuah skena film tanpa standar baku industri dan tanpa tuntutan seperti hari ini. Tentu bagi mereka yang mengalami masa itu akan berkelit kalau itu masa-masa sulit. Bagiku, masa-masa sulit itu yang membentuk kita semua seperti hari ini.

Program ini menurutku patut untuk dilihat ulang sebagai sebuah fenomena budaya yang penting di Jogja, sebuah fenomena yang membentuk satu generasi, dan kelak diturunkan di generasi lainnya. Tentu menggenggam ulang karya-karya ini ditangan sendiri saat itu adalah sebuah kehormatan bagiku pribadi, yang kemudian aku katakan kepada tim JAFF Archive yang saat itu baru terbentuk untuk berhati-hati sekali membersihkan arsip-arsip dari tahun 2006, karena kerentanannya akan scratch maupun mold.

Pengalaman dalam merasakan eksperimen sinematik generasi itu, dan juga menyentuh sinema sebagai sebuah material fisik lah yang membuatku menyampaikan kepada Azel dan kawan-kawan di JAFF Archive, di tahun berikutnya. Kita harus membawa ulang Indie Corner, bukan hanya sekedar nostalgia, tapi bagian dari spirit JAFF paling murni. JAFF yang tidak elitis, tidak internasionalis, namun JAFF yang milik bersama, milik teman-teman di Jogja, dan teman-teman yang berusaha mengenali budaya sinema.

Berkut adalah catatan kuratorial kami saat itu:

Departemen Riset dan Arsip Film Yayasan Sinema Yogyakarta atau yang akrab disebut JAFF Archive, pertama kali didirikan pada tahun 2022 sebagai bentuk edukasi masyarakat melalui berbagai kegiatan perfilman. JAFF Archive merupakan manifestasi kesadaran kolektif penyelenggara Jogja-NETPAC Asian Film Festival untuk melengkapi ekosistem perfilman Indonesia selama ini, terutama di bidang arsip film. Tahun ini, kami mengaktivasi arsip film lewat program Independent Corner.


Independent Corner (Indie Corner) adalah salah satu program di masa-masa awal penyelenggaraan JAFF yang berfokus untuk menawarkan pengalaman menonton film-film pendek karya komunitas tanpa terikat oleh genre, gaya dan bersifat interaktif karena para penonton bisa memilih sendiri film-film komunitas yang ingin mereka tonton melalui media VCD maupun DVD. Namun sayangnya program ini hanya bertahan selama dua tahun saja.


Harapannya dengan menghadirkan kembali pengalaman menonton awal tahun 2000-an membuat penonton lintas generasi dapat merasakan nostalgia sekaligus pengalaman baru dalam menikmati karya film melalui arsip film JAFF.


Mengambil spirit “ruang” bagi film independen komunitas di era 2000an awal, Program Independent Corner kami anggap sebagai salah satu arsip penting untuk melihat bagaimana JAFF sebagai sebuah festival film, menjadi ruang yang menyenangkan, bebas, dan penuh eksperimen bagi komunitas film.

Film-film yang akan ditampilkan merupakan hasil kurasi Departemen JAFF Archive terhadap arsip festival JAFF yang kesemuanya merupakan film karya komunitas di berbagai wilayah Indonesia dengan berbagai genre dan sutradara yang semuanya juga berasal dari Indonesia.

Secara bentuk, Independent Corner akan mempertahankan pengalaman menonton yang sama seperti yang dihadirkan pada tahun 2006-2007. Kami rasa pengalaman tersebut adalah pengalaman yang hanya akan dialami oleh satu generasi dan tidak tergantikan oleh pengalaman generasi selanjutnya, begitupun sebaliknya. 


Catatan Kuratorial

JAFF Archive


Setelah aku tidak berada di JAFF Archive, nampaknya konsep Indie Corner selalu dibawa beberapa kali dalam eksibisi JAFF Archive. Yang menurutku perlu dikritisi, karena selain Indie Corner ada beberapa eksperimen JAFF yang menurutku menarik untuk dieksplorasi hari ini, seperti pertukaran program antara JAFF dan FFD tahun 2016-2017, atau alih wahana puisi karya Leon Agusta menjadi beberapa film yang ditayangkan di JAFF (aku lupa tahunnya, mungkin antara 2015-2017). Atau section film khusus kawan-kawan organizer JAFF.

Jangan membuat Indie Corner sebagai jebakan estetika tersendiri bagi JAFF Archive, sebab ada 1400 arsip JAFF yang bisa diolah menjadi berbagai macam narasi yang bisa menghubungkan perjalanan festival ke publik yang lebih luas. Indie Corner hanya sebuah permulaan saja.

Namun walau bagaimana pun itu, Indie Corner selalu membekas dikepalaku, karena materi arsipnya cukup sulit ditebak secara konten maupun kualitas, beberapa bahkan belum sempat terselamatkan, dan itulah yang membuatku bersemangat saat itu untuk menyelesaikan digitasi katalog dan arsip vcd-dvd JAFF tahun 2006. Walau hanya sendirian, awalnya.

Aku berharap semoga arsip-arsip itu bisa terus dirawat. Agar bisa diakses oleh siapapun yang membutuhkannya kelak.


Label Indie Corner di Box Indie Corner, Kantor JAFF, Yogyakarta, 2022
(Dokumentasi Pribadi)



Komentar