LINUX: OPEN SOURCE COMMUNITY DAN IDE KOLABORASI




Di beberapa tulisan sebelumnya aku sedikit banyak menjabarkan hal-hal terkait desentralisasi, dan bagaimana konsep kolaboratif menjadi solusi yang aku tawarkan dalam kerja-kerja pelestarian film.

Beberapa waktu lalu aku berpikir untuk berbagi terkait darimana akar dari "kerja kolaboratif" ini bermula. Dan aku terpantik memikirkan tersebut ketika sebuah notifikasi masuk ke laptopku untuk melakukan sebuah update linux kernel dan shell.


BERKENALAN DENGAN LINUX DAN KOMUNITAS OPEN SOURCE

Saat aku menginjak SMP pada pertengahan tahun 2010-an. Aku memiliki sebuah hobi baru bernama "oprek pc". Mulanya hobi tersebut ada karena aku suka bermain game, namun lama kelamaan aku tertarik dengan bagaimana mesin ini bekerja. Dan saat itu adalah masa dimana Windows 8 baru saja rilis, serta tentu saja update ala-ala Microsoft cukup mengesalkan. Aku lantas mencoba mencari alternatif Operating System yang bisa dengan nyaman aku custom sesuai selera, dan bisa aku pakai untuk belajar hal-hal baru.

Disinilah aku berkenalan dengan Backtrack. 

Saat itu, Backtrack adalah salah satu Operating System (OS) yang populer, sudah ada sejak 2006, berbasis Linux Distro Debian, dan dikhususkan untuk orang-orang yang memang menggunakan OS sebagai Penetration System. Sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menguji ketahanan sebuah sistem, entah itu jaringan, website, dan hal-hal berkaitan dengan keamanan siber.

Dari Backtrack aku berkenalan dengan Linux via distro Debian, sebuah lini Distro Linux yang memang cukup stabil dan mature, jika dibanding dua lainnya, semacam Ubuntu, apalagi Arch yang tergolong sangat muda saat itu.

Namun perkenalan ku dengan Backtrack dengan sistem Debian bukannya hal yang mudah, aku harus memahami cara sistem ini bekerja, mulai dari instalasi, partisi, hingga cara kerja tools-tools yang ada di dalam package sistemnya. Aku yang masih sangat muda saat itu sangat overwhelm dengan semua ini. Dan akhirnya aku menggunakan Backtrack sebagai OS kedua setelah Windows, dimana Windows masih menjadi OS utamaku dalam mengerajakan banyak hal.

Namun yang aku suka dari perkenalanku dengan Backtrack saat itu adalah, komunitasnya yang hidup di forum-forum resmi mereka, ataupun github. Pengalaman bersentuhan langsung dengan mereka menjadi salah satu momen unik yang aku rasakan selama ini. Dan membuka mata ku pada semesta Open Source community yang secara kolaboratif dan rutin melakukan maintenance dan pengembangan secara massif bagi distro-distro yang ada.

Open Source dalam konteks ini adalah kode perangkat lunak/software yang sifatnya terbuka dan bisa dirubah oleh siapapun. Sehingga siapa saja dapat mengakses, mempelajari, memodifikasi, dan mendistribusikannya kembali sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Berbeda dengan closed source yang kodenya tertutup dan hanya dikelola oleh pengembang asli, open source mengedepankan prinsip kolaborasi, transparansi, dan kebebasan.  Hal ini memungkinkan komunitas global untuk berkontribusi dalam memperbaiki bug, meningkatkan fitur, dan mengembangkan versi baru dari perangkat lunak tersebut.

Dari sana aku membaca sebuah fenomena baru yang terjadi di dunia digital hari ini dari akibat terbukanya internet sebagai medium yang lintas batas, bahwa kerja-kerja kolaborasi dan sukarela sangat mungkin dilakukan sebagai sebuah gerakan yang bisa membayangkan masa depan. Pada konteks linux, Backtrack menjadi salah satu contoh OS linux yang bertahan selama bertahun-tahun dan dikembangkan langsung oleh komunitasnya, hingga pada tahun setelah 2013, ia berganti nama menjadi Kali Linux dengan fungsi yang juga sama. 

Lompat ke tahun 2025, aku yang sudah lama tidak menyentuh linux dan komunitas open source, kembali mencoba masuk melalui banyak aplikasi alternatif open source sebagai bentuk dari rasa jenuh akan budaya subscription milik Apple dan juga kapitalisasi yang dilakukan Microsoft, sekaligus menemukan pengganti Da Vinci, Adobe, dll yang merupakan aplikasi penting bagi pekerjaanku di film selama ini. 

Lalu aku mulai terjun penuh ke dunia open source lagi, dengan migrasi total dari Mac OS ke Arch Linux, dan membangun sistem dengan full customisasi sesuai dengan cara kerjaku selama ini dalam keseharian.

Menentukan mana distro yang aku pakai pasca bergulat dengan Debian dan hal-hal command prompt di terminal yang cukup "traumatis" dahulu cukuplah sulit. Linux memiliki banyak lini distro dengan kebutuhan masing-masing, namun setelah aku pelajari, mana distro yang saat ini komunitasnya cukup hidup dan mudah dikustomisasi, aku memutuskan Arch Linux sebagai titik awalku lagi.

Arch Linux saat ini berbeda dari tahun-tahun awal aku berkenalan dengan Linux. Komunitasnya cukup besar sekarang, mayoritas diisi oleh anak-anak muda yang hobi ricing (Aktivitas customisasi UI/UX Linux) serta Arch Linux kini juga dijadikan basis distro beberapa OS yang mensupport kegiatan multimedia dan game semacam Steam OS milik Steam. Sementara Debian, hari ini lebih dikenal sebagai OS yang stabil dan sering digunakan untuk kebutuhan server ketimbang pc harian. Pesaing dari Arch Linux  sebenarnya adalah Fedora, yang juga stabil dan minim trouble, namun aku tetap memilih Arch karena cara kerjanya.

Arch tidak seperti Fedora yang diperuntukan untuk mereka, para pekerja profesional yang malas untuk troubleshooting masalah-masalah klasik di Linux. Arch diperuntukan untuk mereka yang ingin memegang kontrol penuh dari perkara kernel Linux, sistem, hingga desktop environment. Menginstal di laptop tua seperti Thinkpad T470 i5 gen6 milikku, seperti mengisi nyawa ke dalam sebuah robot yang sudah usang, kamu harus membangunnya satu persatu dari layar terminal hitam, lalu memilih sistem apa saja yang mau kamu masukkan untuk melengkapi nyawa yang sudah kamu suntikkan itu, dan tetap relevan serta mengerti betul dengan apa yang selalu kita kerjakan dalam keseharian.

Itulah kenapa Arch yang digunakan oleh satu user dengan user lain bentuknya berbeda sekali, itulah kenapa cara kerja satu user Arch dengan user Arch lainnya juga berbeda. Dia menghadirkan pengalaman personal yang hanya kamu miliki, dan jika bermasalah hanya kamu yang tahu cara memperbaikinya. Satu-satunya yang menghubungkan satu pengguna ke pengguna yang lain adalah sistemnya, sebuah pondasi sistem utama Arch Linux yang semacam perlu selalu kita koreksi untuk menjalankan antar muka yang berbeda-beda di setiap mesin yang kita gunakan.

Hal ini sesuai dengan latar belakangku yang memang muak dengan budaya subscription milik Apple atau Microsoft, sesuatu yang kita beli namun tidak pernah benar-benar kita miliki. Kembali Arch Linux, membuatku memiliki kontrol sebagai user, dan tentu saja mampu berkontribusi langsung melalui pengembangan kode-kode sistem open source yang ada melalui github, bersama user lainnya.


OPEN SOURCE DALAM KONTEKS ORGANISASI


Menggunakan Linux adalah belajar untuk terus berusaha membayangkan banyak kemungkinan, melalukan tesis dan anti-tesis terhadap kode yang kita buat atau orang lain sudah buat. Disinilah cara berpikir yang menurutku penting dan membuatku akan sulit berpaling dari komunitas open source.

Ada satu buku yang menarik untuk melihat relasi antar kerja-kerja komunitas Open Source dan model organisasi alternatif.

Jim Whitehurst (mantan CEO RedHat, salah satu distro Linux tertua) dalam bukunya berjudul The Open Organization: Igniting Passion and Performance, menuliskan banyak kaitan antara kerja-kerja dunia open source dan budaya organisasi atau perusahaan yang mengelolanya. Berdasarkan pengalamannya perusahaan masa kini tidak bisa selalu mengandalkan sistem top down untuk melakukan inovasi. Terkadang sistem yang bersifat kolaboratif menjadi semacam pemecah masalah dalam dunia yang semakin terbuka seperti sekarang.

Dan jika ingin melihat gambaran lebih besar, inilah alasan mengapa perusahaan seperti Google dan Microsoft perlahan mulai mensupport upaya-upaya komunitas berbasis open source dalam beberapa tahun kebelakang. Tidak hanya untuk menambal beban finansial dalam mendevelop apa yang mereka kerjakan, namun juga sebagai upaya menciptakan inovasi-inovasi baru dan regenerasi sumber daya manusia baru. 

Dalam konteks organisasi/perusahaan yang inovatif, justru digerakkan oleh gairah para karyawan atau anggotanya. Mereka yang ada di dalam melihat diri mereka sebagai bagian dari sebuah denyut nadi perusahaan, di mana pemimpin menyeimbangkan kebebasan dalam bekerja dengan akuntabilitas untuk menyalakan hasrat tersebut.

Di dalam struktur yang sama, pembagian kaku antara jabatan manajerial dan kemampuan staf tidaklah berlaku. Ide diukur dan dipilih berdasarkan kualitas serta kelayakannya, bukan berdasarkan siapa atau seberapa tinggi jabatan seseorang yang menyuarakan ide tersebut.

Sehingga leader yang inklusif bukanlah yang bekerja dalam sistem yang terisolasi, melainkan ia yang mampu menempatkan dirinya secara inklusif di dalam tim. Kesuksesan dicapai juga dengan mendelegasikan wewenang dan memberikan ruang bagi para delegasi untuk berkontribusi secara langsung.

__

Notifikasi update kernel Linux itu muncul beberapa hari lalu, hampir bersamaan dengan hyprland 0.57 yang mengharuskanku bermigrasi dari sistem pengaturan conf. ke lua. tentu saja hal ini menyita waktuku hampir seharian untuk bermigrasi ke sistem baru. Namun begitulah kehidupan dengan sesuatu yang memang kita rancang sendiri, dan tentu saja kita miliki sendiri.

Sejak menggunakan Arch Linux milikku dengan segala ricing yang telah ku lakukan, aku jadi semakin menghargai mesin ini tidak hanya sekedar sebuah laptop thinkpad tua yang aku beli di toko elektronik bekas, namun sebuah mesin dan semacam asisten yang memahami apa yang aku pikirkan, dan bahkan mungkin menjadi bagian dari personality ku juga.

Selain itu, aku juga lebih bisa menghargai kerja kawan-kawan yang rela melakukan koreksi terhadap kode yang berada di repository AUR maupun di forum-forum seperti github. Memahaminya sebagai sebuah laku gerakan kolektif yang menghidupkan Arch Linux, tidak hanya sebagai sebuah operating sistem, tapi sebagai sebuah kelompok lintas batas negara yang terus berkembang dan menawarkan hal-hal baru melalui sebuah sistem komputer yang bersifat terbuka dan siapapun bisa bersuara.

Sebenarnya ada alasan lain yang membuatku berpikir seperti itu, hal ini terkait gerakan anti e-waste dengan cara mempertahankan barang-barang yang dianggap "tua" untuk bisa terus relevan dengan keseharian kita. Ini merupakan gerakan yang merespon budaya konsumtif dari kapitalisme, namun nampaknya akan aku tulis di tulisan berbeda.

Komentar