MELIHAT KEBUMEN DAN BAGAIMANA KONSEP "PULANG" MENJADI KERJA-KERJA DOKUMENTASI FENOMENA KEBUDAYAAN


Penayangan Film dan Diskusi Buku TOBONG
(Eperlawas, 15 Oktober 2026) / Dokumentasi RUPAKAR Studio

Dalam tulisanku sebelumnya "Setelah Satu Abad dan Sebuah Dokumentasi Yang Terlewatkan", aku menuliskan suatu hal yang krusial dan selalu aku gaungkan disaat penayangan film ini di depan masyarakat Kebumen. Bahwa apa yang kami lakukan adalah respon atas minimnya dokumentasi yang terjadi di Kebumen terkait Tobong dan sejarah panjang industri genteng di Kebumen. 

Dan hal itu masih aku sampaikan lagi di Eperlawas pada 15 Oktober 2026. Pada malam tersebut kami mengumpulkan anak-anak, warga, dan kelompok pemuda lintas disiplin seni dan keilmuan untuk berdiskusi dan sekaligus sharing terkait bagaimana mereka melihat fenomena Tobong hari ini.

Dalam sesi tersebut aku tidak sendiri ke Kebumen, ada Karen, Dessy, dan juga Ladyja yang bersama-sama berangkat dari Yogyakarta. Malam itu Karen membuka diskusi dengan bercerita awal mula proyek ini terbentuk dan visinya terhadap Tobong yang secara bentuk buku dan film memang dibuat secara fragmented, terasa berjarak, dan penuh dengan "asumsi" terhadap sejarah lisan yang kami temukan sepanjang proses berjalan. Tentu sebagai anak Kebumen, ia juga menyadari keterbatasan dan keberjarakannya secara personal dengan apa yang terjadi di tanah kelahirannya sendiri.

Namun begitulah cerita bermula, dari ketidakpahaman dan pengalaman empiris yang rasanya belum cukup waktu untuk sepenuhnya disimpulkan.


__


Kembali ke beberapa bulan sebelumnya, aku mulanya tidak begitu tertarik dengan proyek ini. Awalnya karena tentu saja aku tidak berasal dari Kebumen dan aku tidak paham betul relasi kultural yang terjadi antara orang-orang Kebumen dan industri gentengnya. Namun, Karen selalu menceritakan perjalanannya setiap kali pulang ke Kebumen, dan perlahan fragmen cerita itu menjadi satu seperti puzzle yang dirangkai pelan-pelan. Antara ingatan masa kecilnya, wilayah Kebumen, cara berkomunikasi warganya, hingga industri genteng hari ini yang ternyata memiliki sejarah panjang.

Aku sendiri berpikir, apa yang menyatukan isi kepala kita saat membuat proyek ini? Begitu sehari sebelum keberangkatan kita ke Kebumen, Karen bertanya hal yang sama, kenapa aku mau membantunya sejauh ini? 

Tentu minimnya dokumentasi dan kuatnya aspek sejarah seperti yang aku tuliskan di tulisan sebelumnya, jadi tidak terhindarkan karena aku dan Karen bekerja di ranah yang selalu bersinggungan dengan pengarsipan seni budaya. Kami memiliki kegelisahan yang sama. Namun setelah aku pikir, nampaknya lebih dalam dari sekedar itu.

Sepanjang perjalananku ke Kebumen kemarin, aku selalu merenungkan apa yang terjadi dan membuat keterikatan yang cukup abstrak ini menggerakan apa yang sedang kita kerjakan. Tentu seperti halnya aku berpikir ikatan pribadiku dengan kota Semarang, yang sulit dijelaskan.

Aku adalah seseorang yang bisa dibilang sulit memahami kedekatan kultural dengan tanah kelahiran, aku berjarak dengan kota Semarang sejak aku kecil, dan tidak ada alasan kembali karena aku tidak memiliki rumah lagi disana. Walau begitu, aku masih beberapa kali pulang ke Semarang, hanya sekedar melepas penat dari hiruk pikuk kebudayaan Jogja, atau Jakarta. Walau sebenarnya tidak ada yang aku lakukan juga disana, selain bertemu teman sesama pembuat film, atau sekedar berjalan-jalan mencari kuliner yang unik-unik. Kadang malah aku sendirian ke kota tersebut tanpa bertemu siapa-siapa, dan berkunjung ke tempatku dulu menghabiskan masa kecil, di Mijen.

Karen seringkali bercerita bahwa ia jarang main juga ke tempat-tempat menarik, atau sekedar spot nongkrong di Kebumen, apalagi bertemu kawan. Satu-satunya tujuan dia hanyalah bertemu keluarga (karena masih memiliki rumah disana).

Sedikit banyak aku memahami apa yang ia bicarakan karena aku pun tidak begitu mengenal Semarang sebagai kota kelahiran. Sesederhana di mana tempat nongkrong, aku tidak tahu, dan teman masa sekolah pun sudah tidak punya. Hanya ada keluarga (yang sesekali saja aku kunjungi), sisanya aku jadikan kota ini hanya untuk sedikit bernafas.

Mungkin, disana kami bertemu. Kesamaan memiliki keterikatan dengan tanah kelahiraan yang sulit dijelaskan, selain faktor ketertarikan terhadap kerja pendokumentasian dan sejarah yang ada.

Tentu hal ini tidak terlepas dari identitas ke Indonesiaan kita yang memiliki konsep "Rantau" dimana didalamnya ada "Siklus Kehidupan" yang kita amini bersama secara kolektif sebagai suatu suku bangsa. Yang mana tradisi ini bukan saja merupakan perpindahan fisik dari satu wilayah ke wilayah lain, namun ia juga membentuk konsep "tanah asal" sebagai titik acuan moralitas, spiritual, dan etika.

Disinilah pertemuan tersebut terjadi, Karen berusaha merasakan kepulangannya ke Kebumen tidak hanya sekedar perpindahan namun juga melihatnya sebagai sebuah kembalinya dia ke titik awal moral dan spiritual. Dan hal-hal itu nampaknya mampu ia transfer dengan baik kepadaku dan juga kawan-kawan yang lain, walau konsekuensinya ia harus mengulangi cerita yang sama ke orang-orang baru yang ia ajak untuk ikut "pulang".

Ide mengangkat aspek kerja-kerja "Perempuan" pun nampaknya mempertegas hal itu. Walau secara tidak sengaja. Di Indonesia kita seringkali menganggap tanah asal sebagai "Ibu Pertiwi", bukan "Bapak" seperti negara-negara Eropa memanggil tanah leluhur mereka sebagai "Fatherland" di masa-masa sebelum dekolonialisasi pasca Perang Dunia II. Motherland adalah istilah yang diperkenalkan oleh budaya Sosialisme dalam propaganda mereka pasca perang, mengangkat istilah ini kedalam visual dan penceritaan di dalam film Tobong menurutku selaras dengan identitas kerja-kerja yang dilakukan Karen selama ini, selain juga ia menggunakan banyak pendekatan perempuan di dalamnya, secara gagasan maupun praktik.

Posisiku sebagai sutradara jelas merupakan tantangan sebab dari awal aku melihat film ini memiliki unsur cara pandang perempuan yang cukup dalam. Aku jarang membahasnya dengan Karen, namun bagiku lebih baik kami berdua melakukannya secara organik. Dan baru disini aku menuliskannya.

Alasan mengapa sejak awal aku menggunakan teknik realisme dan long take yang meminimalisir cutting adegan di dalam editing adalah karena aku tidak ingin, intervensi pandanganku sebagai laki-laki mengarahkan cara orang-orang melihat Tobong sebagai kerja-kerja yang patriarkal. Selain juga karena ingin menampilkan apa yang terjadi secara jujur dan tidak kami reka satu pun.

Disinilah menariknya, sebab kemudian aku membujuk Karen (dengan susah payah) untuk menjadi narator utama dari film ini. Seorang anak perempuan yang berusaha mengingat ulang kejadian di tanah kelahirannya, dengan dialek ngapak, yang tentu saja terdengar berjarak. Akhirnya kami memperlakukan karya ini menjadi sangat personal, menjadi sangat empiris, dan kadang cenderung sentimental.

Film ini pada ujungnya bukan hanya sekedar dokumentasi terhadap kehidupan dan kerja-kerja Tobong tapi bagimana anak-anak muda melihat ulang kerja-kerja tersebut sebagai bagian dari sejarah panjangnya, kerja-kerja perempuan yang termaktub di dalamnya, dan kolektifitas masyarakat dalam melestarikannya hingga hari ini.

Disinilah kerja-kerja penelusuran ulang identitasnya dan ingatan serta cara pandangnya saling bertemu, aku pun tidak mengintervensinya terlalu jauh. Tentu tidak sempurna, tapi dari sini, aku melihat Karen menuangkan seluruh energi dan identitas Kebumen-nya secara utuh di atas teks nasakah VO. Yang kemudian kami putuskan naskah tersebut kami masukkan juga ke dalam buku Tobong yang kami rilis bersamaan dengan filmnya.


__


Di Eperlawas malam itu, kami memang bertujuan untuk lebih banyak mendengarkan daripada menjelaskan. Kami ingin kerja-kerja ini diteruskan oleh kawan-kawan di Kebumen.

Setelah aku, Karen, Ladyja dan Dessy berbagi pengalaman dan impresi terkait proyek ini dan juga ruang Eperlawas, muncul sebuah pertanyaan menarik dari salah satu kawan kita yang hadir malam itu. Pertanyaan, tentang bagaimana kerja-kerja ini dirawat kedepannya oleh mereka kawan-kawan di Kebumen? 

Pertanyaan yang basic namun nampaknya merawat semangat bukan kerjaan yang mudah dan bisa dilakukan begitu saja di banyak tempat. Aku menanggapi dengan sederhana, kami memulai proyek ini dengan berbagi cerita, mempertemukan kegelisahan, dan merangkai semuanya menjadi sebuah kerja-kerja dokumentasi. Tidak ada yang terburu-buru disini selain deadline dari Balai Pelestarian Kebudayaan yang memang membiayai proyek ini. Selebihnya kami hanya ingin mengawali, dan memantik kerja-kerja pendokumentasian di Kebumen. 

Sehingga merawat dialog adalah yang utama, kadang ia bisa menjadi sesuatu, kadang ia menunggu waktu. Kerja-kerja pendokumentasian dirawat justru bukan karena kita ingin terburu-buru membuat sesuatu, tapi menyadari dan merasakan bahwa apa yang kita kerjakan akan berguna kelak bagi banyak orang kedepannya.

Sebab kerja-kerja pelestarian kebudayaan, apalagi pengarsipan adalah tugas bersama, ada solidaritas di dalamnya, bukan tugas kelompok tertentu saja.


__


Keberjarakan, alienasi, hingga mengilhami pulang sebagai perjumpaan kembali moral, spiritual, dan etis. Adalah menurutku hari ini, menjadi sebab mengapa fragmentasi terjadi di dalam film dan buku yang kami sajikan. 

Ia merupakan fragmen ingatanku dengan Kebumen dan juga pengalaman empirisku dengan kota Semarang sebagai kota kelahiran yang tidak pernah kukenal secara utuh. Serta Karen dengan Kebumen sebagai tanah kelahiran yang masih terus ia coba pahami, dan ingatan personal dengan orang-orang di dalamnya yang selalu berpapasan ditengah setiap perjumpaan dan kepulangannya.

Fragmen-fragmen tersebut yang kami harap bisa merangkai pembicaraan dan kegelisahaan bersama di Eperlawas malam itu, dan juga setelahnya.


Penayangan Film dan Diskusi Buku TOBONG
(Eperlawas, 15 Oktober 2026) / Dokumentasi RUPAKAR Studio


Komentar